Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #49

Part #49

Berharap Sabrina Kembali 2

"Aku sudah mengkhianati Allah dengan segala nikmat dan janjinya yang selalu di tepati untukku. Lebih baik kau pergi saja dengan Hasan, tinggalkan aku, Sabrina. Aku tidak pantas bersamamu lagi" tekanan hatinya makin di terasuk dosa besar ada dirinya Ricky seraya pasrah bila Sabrina pergi dengan Hasan.

"Allah begitu sayang padamu, Ricky. Sebegitu tepatnya janjinya Allah menepati janjinya padamu, tapi seakan kamu ingkar padaNya. Sebegitu besar nikmat yang kau teguk untuk menghilangkan dahaga ketidak kepercaayanmu pada Allah yang semakin besar. Tapi Allah tetap setia, Allah tetap menepati janjinya" tutur Sabrina seraya menyayat hati Ricky semakin gamang terlebur dalam kegundahan dirinya semakin merasa bersalah berlumuran dosa.

"Sabrina" baru saja mau berbalik pergi Sabrina tidak jadi, dirinya lantas menatap wajah kesedihan Ricky makin terbalut kesalahan. "Aku tidak mengapa, bila kamu kembali pada Hasan. Aku tidak pantas untuk di cintai olehmu. Karena aku sadar diri, bila selama ini aku juga tidak mencintai, Allah. Pergi! Pergi saja tinggalkan aku, Sabrina!" berusaha di tegar-tegar wajah Ricky penuh senyuman seraya hatinya ikhlas bila Sabrina kembali pergi bersama Hasan.

"Tidak Ricky! Aku tahu kamu masih mencintai Sabrina!" harapan Ricky makin kandas, walau tadi hatinya sedikit ikhlas buat melepaskan Sabrina. Tapi datangnya Hasan, tentu kemungkinan Sabrina akan kembali padanya makin tipis. "Tidak Hasan, loe memang lelaki idaman Sabrina. Gua ngak akan berharap jauh lagi Sabrina kembali sama gua" gelap makin datang sebentar lagi pastinya sekitar taman akan sepi. Ricky berusaha menegarkan raut wajahnya seraya di paksakan berdiri di hadapan Hasan malahan melirik Sabrina.

"Kalian bertiga, bagiku adalah lelaki kiriman malaikat buatku. Tapi aku ndak bisa ada tiga lelaki buat di satu hatiku ini" ternyata Yoga sudah ada di samping Hasan hatinya sangat berharap bila Sabrina memilih dirinya. Tapi tidak pada Yoga sejak dari awal mau mengalah dari Hasan, raut wajahnya hanya lesuh terdiam seraya terpendam dalam lautan luas.

"Gua tahu loe suka dan mencintai Sabrina, San? Cuman loe yang bisa bikin Sabrina happy, cuman loe yang bikin hati Sabrina nyaman. Selama gua mengenal dan dekat dengan Sabrina, betapa bodohnya gua selalu ngak bisa bikin dia percaya sama gua! Loe yang pantes buat Sabrina, San. Gua ngak berharap lagi Sabrina kembali sama gua!" mungkin itu ungkapan terakhir Ricky yang terus menyalahkan dirinya, lirikan mata kesedihannya melirik dua mata sendu Sabrina melirik langkah jalan Ricky pergi meninggalkan dirinya.

"Sabrina loe harus tentuin kata hati loe, antara Hasan dan Ricky? Mereka berdua sama-sama sahabat gua" tegas Yoga menatap wajah Sabrina tersirat wajah kegamangan sekarang. Yang tadinya pelataran hijau terlihat terbentang, kini mulai terlihat gelap menyelimuti semuanya. Dari kejauhan terminal Mahbas Jin, Makkah hanya terlihat sorot lampu cahaya bis besar yang sedang menunggu penumpang.

Sabrina kini hanya di apit dua lelaki kiriman malaikat, hatinya semakin gamang menarik ulur siapa yang akan di pilih sebagai pendamping hatinya. Seketika langkah jalan Sabrina terhenti, sontak juga Yoga dan Hasan terhenti. Mereka bertiga berdiri di pelataran taman gelap beratap langit makin genit dengan sinar rembulan dan kedipan jutaan bintangnya.

"Kasih aku kesempatan untuk berpikir. Sungguh kalian bertiga lelaki kiriman malaikat bagiku. Tapi aku ndak bisa menentukan siapa yang berhak menjadi pendamping hatiku ini. Aku yakin, setelah aku berada di Rumah Allah dan memenuhi undangan Allah. Aku bisa menentukan satu dari tiga lelaki kiriman malaikat itu untuk jadi pendamping hatiku" penuh keyakian tersirat di raut wajahnya Sabrina di sinari sinar rembulan, kemudian setelah itu dua langkah kakinya cepat mengajak berjalan pulang.

Perlahan juga dua pasang langkah kecil kaki berjalan mengikuti dari belakang Sabrina terus berjalan yakin tidak ingin menoleh kiri kanan pada Yoga dan Hasan. Padahal dalam hatinya Hasan sangat berharap sekali, bila Sabrina bisa kembali padanya. Tapi tidak pada Yoga, dirinya yakin tidak mau ikut dalam kompetisi menunggu siapa yang akan jadi pendamping hatinya Sabrina.

Bintang bertebran dengan kedipan kilauannya, begitu juga sinar rembulan terang menerangi Masjidil Haram. Ka'bah seakan tahu, seakan sedang menunggu bagi siapa saja yang berniatkan hatinya penuh ketulusan bersujud di hadapanya. Kilauan ratusan cahaya lampu makin menerangi sekitar kawasan Masjidil Haram. Hanya siapa saja yang berjodoh, dengan penuh ketulusan hati akan sampai di Rumah, RumahNya Allah.

Jam dinding terus berputar jarumnya detik dan sudah menunjukan waktu 1.30 waktu Arab Saudi. Terduduk bersujud Sabrina lengkap dengan mukenah putihnya, wajahnya di lapisi kesedihan yang terus tidak berkesudahan sampai kapan. Dirinya terus menadahkan dua tangannya seraya memohon pentujuk doa pada Allah, selesai Sholat Tahajud. Keheningan malam terbius dengan makin berat rasa gerak bibir Sabrina untuk mengungkapkan kegundahan hatinya pada Allah. Kamar pun seakan ikut sunyi, lihat saja ranjang dan perabotan makin penasaran apa yang sedang ungkapkan hatinya Sabrina, dirinya tengah-tengah malam melakukan Sholat Tahajud.

Lihat selengkapnya