Allah Telah Menepati Janjinya
"Labbaykallahumma labbayk, labbayka la syarika laka labbayk. Innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk. La syarika lak" "Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin" begitu khusuknya seruan panggilan seluruh Jamaah sedang tawaf sontak di jawab dalam hatinya Sabrina. Pancaran keyakinan pada dua matanya, dirinya kini bisa berada di hadapan Ka'bah semakin dekat pada dirinya.
Ka'bah berada di tengah-tengah Masjidil Haram, yang juga adalah pusat kiblat umat Islam. Selain menjadi kiblat, tempat suci umat Islam, juga disebut Baitullah "Rumah Allah" ini adalah tempat pelaksanaan salah satu rangkaian ibadah dalam tawaf dan haji dan umrah . Ka'bah berbentuk bangunan segi empat, dan keempat sudut temboknya kira-kira searah dengan empat penjuru mata angin.
Semakin sedih dan semakin tidak yakin, bila Allah telah menepati janjinya dan dirinya sudah memenuhi undangan Allah. "Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah menepati janjiMu dan aku saat ini sudah berdiri di hadapan RumahMu" dengan memakai irham pemberian Juju, guman yakin seraya hatinya terus memanjatkan doa tidak henti-hentinya bersalut keharuan membaluti wajahnya Sabrina. Tidak tahu kenapa tiba-tiba dua matanya tidak bisa menahan tetesan kesedihan yang makin mendalam, makin tidak terbendung dua matanya.
"Andai saja ibu ada di sini. Sama-sama melakukan niat ini?" ternyata kesedihan Sabrina terundang karena dirinya merindukan Juju, yang ingin sekali Sabrina bersama ibunya berhaji. "Sabrina" terdengar kecil suara panggilan yang seperti sangat di kenalnya, pandangan matanya menyela membela iring-iringan barisan Jamaah semua berkilau cahaya putih mamakai irham putih. "Sabrina" makin jelas terdengar, saat padangan dua mata Sabrina mencari.
Ternyata di belakangnya tanpa di sadari Sabrina, sudah berdiri Juju dan Ratih mereka berdua mengenakan irham putih terbalut mukenah putih membalut wajah dan kepalanya. Makin yakin hati Sabrina, bila yang memanggil dirinya adalah Juju, setengah yakin Sabrina tidak mau berbalik tapi hatinya kecilnya terus memanggil agar segera berbalik. Pastinya itu hanya halusinasi saja bagi dirinya, mana mungkin Juju bisa berada di sini. Mungkin itu hanya seruan panggilan dari malaikat, yang hanya biasa menggoda dirinya untuk membatalkan niat hajinya saja.
"Sabrina, ini ibu" makin yakin, makin deras mengalir air mata Sabrina seraya makin tidak terbendung sontak berbalik. Rasa haru kian mendalam menusuk sukma relung hati antara anak dan ibu saling berpelukan erat di depan Ka'bah. "Semua ini atas kebaikan Ricky dan ibunya, ibu bisa sampai di Rumah Allah" sedih terharu dan tidak tahu bagaimana caranya Juju mengucapkan terima kasih, karena kebaikan Ricky dan Ratih, dirinya bisa sampai di Rumah Allah.
"Sabrina ..." kompak tiga lelaki kiriman malaikat berada di belakang Juju dan Ratih pelan-pelan menepi. Makin terharu, makin di gelayuti kegundahan hatinya Sabrina melihat Hasan, Yoga dan Ricky yang mereka bertiga juga ikut melaksanakan niat hajinya. "Kalian?" senyuman terumbar dari ketulusan raut wajahnya Sabrina semakin gundah, bila Allah telah menjawab doanya. Hanya anggukan tersenyum dari tiga lelaki cepat berjalan di depan Ka'bah melakukan tawaf, di ikuti Sabrina, Ratih dan Juju dari belakang.