Janji Allah~Novel~

Herman Siem
Chapter #51

Part #51

Menagih Janji

Ratih seperti sudah tahu dengan apa yang terjadi pada Ricky, anaknya yang kini setelah melaksanakan niat hajinya. Hanya kebanyakan murung melamun diam saja, tapi tentunya membuat Ratih bahagia melihat perubahan yang ada pada anaknya. Ricky sebegitu rajin sekali Sholatnya, tidak seperti dulu di mana dirinya hanya bisa pasrah dengan Ricky selalu melupakan Allah, padahal begitu banyak nikmat yang telah di teguknya.

"Ibu juga tidak bisa memaksakan Sabrina, Rick" terucap dari bibir Ratih sudah berdiri di hadapan Ricky terduduk, kali ini dirinya begitu regelius sekali. Alquran di letakan di meja masih berhadapan dirinya, wajahnya bertambah tampan dengan kopiah putih serta terbalut gamis putih berlengan panjang membaluti seluruh tubuhnya.

"Aku tidak bisa berharap banyak lagi pada Sabrina, Bu. Apalagi menagih janji padanya, setelah aku seperti saat ini. Aku tidak mau lagi melupakan nikmatnya Allah yang begitu sayang sekali padaku. Dan apa yang aku lakuin saat ini dan nanti akan aku bawa sampai mati, Bu. Bukan karena aku masih berharap pada Sabrina bisa kembali lagi padaku, tapi sekarang ini cintaku pada Allah sangat tulus" itulah kejujuran ungkapan hatinya Ricky pada Ratih tersenyum haru.

"Tok, tok ..." suara pintu terdengar dari luar. Sedikit bingung wajah Ratih melirik kearah pintu, kemudian langkah kakinya mengajak mendekati pintu. Mungkin Ricky tidak berharap banyak lagi tentang Sabrina, yang mungkin saja saat ini sudah bersama Hasan. "Asalam' mualaikum" tidak jadi Ricky berjalan kearah kamarnya malahan menjawab salam.

"Waalaikum' salam" Ricky berbalik sudah berdiri Hasan di depan pintu di sambut senyuman Ratih perhatikan anak angkat yang tampan sudah berseragam putih lengkap. "Kapten Hasan?" seraya meledek Ratih saat tangannya di salami dan di cium lembut bibir kecilnya Hasan rada membungkuk.

"Ya sudah, ibu mau kebelakang dulu ya. Ricky kamu temani Hasan dan Yoga dulu, ibu mau beres-beres dulu di belakang. Ricky ingat, kamu jangan bertengkar dengan Hasan, karena dia sudah mengambil Sabrina darimu" lagi-lagi Ratih tertawa sambil sedikit meledek Ricky cuman tersenyum saat Hasan mulai terduduk berhadapan dengan Ricky.

"Loe balik berlayar lagi, San?" tanya Ricky terduduk berhadapan Hasan cuman tersenyum. Ricky seakan bisa menebak Hasan dengan senyumannya seperti ada sesuatu yang di sembuyikan di dua matanya, karena sekali-kali selalu melirik kearah luar pintu. "Iya, Rick. Lautan adalah sahabat saya, walau lautan sering marah menggerakan ombak besar sampai menghempaskan kapal yang saya nakodahi, tetap lautan itu sahabat saya. Saya tidak mau egois untuk memaksakan hati ini mengambil cintamu, Rick. Saya yakin seseorang di luar sana masih menunggu kamu, dia masih berharap padamu" tersenyum sambil bertutur setengah-setengah Hasan bikin Ricky semakin penasaran dan bingung ikut melirik kearah luar pintu.

"Kapten Hasan, siap kita segera berangkat berlayar?" makin bingung Ricky tiba-tiba muncul Yoga berseragam lengkap putih sudah ada di belakang Hasan beranjak bangun.

"Yoga?" cepat Ricky menghampiri Yoga menahan tawa, memang seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dari Hasan dan Yoga. "Sory, Ricky. Gua sama Hasan harus segera kembali berlayar, Rick. Tapi gua sama Hasan mau titip seseorang sama loe. Dan loe harus janji tidak akan nyakitin dia lagi dan loe harus janji sayang sama dia" menahan tawa lagi Yoga melirik wajah Ricky makin bingung.

"Loe berdua kenapa sih?!" makin bingung dua langkah kaki Ricky penasaran berjalan kearah depan pintu, seperti ada seseorang berdiri terlihat bayangannya di depan pintu.

Lihat selengkapnya