Janji di Bawah Langit yang Sama

Ezra Jo
Chapter #1

Bab 1 - Sahabat Sejak Hari Pertama


Prolog

Janji di Bawah Langit yang Sama

Ada persahabatan yang lahir karena kebetulan. Ada pula yang tumbuh karena waktu. Namun, ada juga persahabatan yang seolah telah ditulis oleh takdir, jauh sebelum dua hati saling mengenal.

Arsen Yanuar dan Antonio Putra hanyalah dua anak kecil yang dipertemukan pada hari pertama taman kanak-kanak. Dari sapaan sederhana dan bangku yang sama, tumbuh sebuah ikatan yang perlahan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Mereka belajar tertawa bersama, menangis bersama, dan percaya bahwa sahabat sejati akan selalu berjalan berdampingan.

Namun, hidup tidak selalu mengikuti keinginan manusia.

Sebuah kepindahan memisahkan langkah mereka. Tahun demi tahun berlalu tanpa kabar, sementara masing-masing terus tumbuh dengan membawa kenangan yang sama—kenangan tentang seorang sahabat yang tak pernah benar-benar hilang dari hati.

Di bawah langit yang sama, keduanya menjalani kehidupan yang berbeda. Mereka mengejar mimpi, menghadapi kehilangan, menemukan harapan, dan tanpa sadar terus berjalan menuju sebuah pertemuan yang telah lama dijanjikan oleh waktu.

Janji di Bawah Langit yang Sama adalah kisah tentang persahabatan yang mampu bertahan melampaui jarak, waktu, dan perubahan. Sebuah pengingat bahwa orang-orang yang benar-benar berarti mungkin akan pergi untuk sementara, tetapi kenangan dan janji yang mereka tinggalkan akan selalu menemukan jalan untuk mempertemukan kembali.

Karena pada akhirnya, langit yang sama selalu menyimpan harapan bagi mereka yang tidak pernah berhenti percaya.


Bab 1 - Sahabat Sejak Hari Pertama


Kota Tasikmalaya selalu memiliki cara sederhana untuk membuat kenangan terasa hangat. Udara pagi yang sejuk, suara burung dari pepohonan, dan tawa anak-anak yang memenuhi halaman sebuah taman kanak-kanak menjadi saksi awal sebuah persahabatan yang tak pernah diduga akan bertahan begitu lama.


Di hari pertama masuk TK, seorang anak laki-laki bernama Arsen duduk sendirian di pojok kelas. Ia memegang kotak pensil berwarna biru pemberian ayahnya. Wajahnya tampak gugup karena belum mengenal siapa pun.


Tak lama kemudian, seorang anak lain menghampirinya.


"Hai... boleh gak aku duduk di sini?" tanyanya sambil tersenyum.


Arsen mengangguk pelan.


"Nama aku Antonio, kamu?." Antonio memperkenalkan diri sambil mengajaknya bersalaman


Lihat selengkapnya