Janji di Bawah Langit yang Sama
Bab 2 - Hari yang Tak Ingin Datang
Pagi itu, langit Kota Tasikmalaya tampak mendung. Arsen berjalan menuju sekolah dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya. Tas biru di punggungnya terasa begitu berat, seolah ikut memikul beban di hatinya.
Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar itu kepada Antonio.
Sesampainya di kelas, Antonio langsung menghampiri.
"Sen! Ayo cepat sini! Hari ini kita latihan buat lomba cerdas cermat!"
Biasanya Arsen akan langsung tersenyum.
Namun kali ini tidak.
Antonio mulai merasa ada yang berbeda.
"Sen km kenapa? Kamu sakit ya?" Tanya Antonio.
Arsen menggeleng.
"Nanti... waktu istirahat aku mau ngomongin sesuatu ya ton." Ucapnya pelan.
Antonio mengangguk pelan.
Jam pelajaran terasa berjalan sangat lambat.
Bel berbunyi.
Mereka berdua berjalan menuju pohon mangga di sudut halaman sekolah. Tempat itu sudah menjadi tempat favorit mereka sejak kelas satu.
Arsen menundukkan kepala.
"Ton..." Arsen memulai percakapan.
"Iya sen?" Jawab Antonio
"Ayahku dipindahkan kerja... ke luar provinsi." Lanjut Arsen
Antonio masih tersenyum kecil.
"Oh... Iya terus?" Antonio bertanya
"Aku... ikut pindah." Jawab Arsen sambil tertunduk sedih
Senyum Antonio perlahan menghilang.
"...Apa?" Antonio kaget
"Aku pindah sekolah." Lanjut Arsen
Suasana mendadak sunyi.