Janji di Bawah Langit yang Sama
Bab 4 - Kota Baru, Harapan Baru
Mentari pagi menyinari langit Surabaya dengan hangat. Kota yang ramai itu menjadi awal kehidupan baru bagi ribuan siswa yang akan memulai jenjang SMP, termasuk dua sahabat yang telah lama dipisahkan oleh jarak.
Namun, mereka belum tahu...
Hari itu, takdir telah membawa mereka kembali ke tempat yang sama.
Arsen berdiri di depan gerbang SMP Negeri 15 Surabaya. Seragam putih biru yang masih baru terasa sedikit kaku. Ia menarik napas panjang sambil menatap papan nama sekolah.
"Semoga di sini aku bisa punya banyak teman," gumamnya.
Ayahnya menepuk bahunya.
"Jangan takut memulai dari awal. Ayah yakin kamu bisa."
Arsen mengangguk sambil tersenyum tipis.
Ia melihat banyak siswa berjalan bersama orang tua mereka. Ada yang tampak gugup, ada yang sudah tertawa bersama teman-teman barunya.
Di dalam hati, ia masih teringat seseorang.
"Kalau seandainya Antonio ada di sini pasti seru..."
Di sisi lain kota, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang sama.
Antonio turun sambil memanggul tas basket yang selalu dibawanya.
Ayahnya tersenyum.
"Mulai hari ini kita resmi tinggal di Surabaya."
Antonio mengangguk.
Meski tampak tenang, ia sebenarnya masih merindukan Tasikmalaya.
Ia menoleh ke langit.
"Sen... semoga kamu juga baik-baik saja di kota tempatmu sekarang."
Tanpa ia sadari...
Orang yang sedang dipikirkannya berada kurang dari seratus meter darinya.
Upacara penyambutan siswa baru berlangsung di lapangan sekolah.
Karena jumlah murid cukup banyak, mereka dibagi menjadi beberapa barisan sesuai kelas.
Arsen mendapat kelas VII A.
Antonio mendapat kelas VII B.