Janji di Bawah Langit yang Sama
Bab 5 - Wajah yang Terasa Tak Asing
Satu minggu telah berlalu sejak tahun ajaran baru dimulai di SMP Negeri 15 Surabaya.
Arsen mulai menikmati hari-harinya di kelas VII A. Ia dikenal sebagai siswa yang ramah dan berbakat di bidang musik. Saat jam istirahat, ia sering membawa gitar sekolah ke gazebo kecil di dekat taman untuk memainkan lagu-lagu sederhana bersama teman-temannya.
Di sisi lain, Antonio semakin akrab dengan tim basket sekolah. Hampir setiap sore ia berlatih di lapangan hingga matahari mulai tenggelam.
Mereka menjalani hari-hari yang berbeda.
Namun, takdir mulai mempersempit jarak di antara keduanya.
Hari Jumat tiba.
Bel istirahat berbunyi nyaring.
Kantin sekolah langsung dipenuhi siswa yang mengantre membeli makanan.
Antonio bersama tiga teman sekelasnya duduk di meja dekat jendela.
Sambil menikmati semangkuk bakso, matanya sesekali memperhatikan suasana kantin yang ramai.
Tiba-tiba...
Pandangannya berhenti pada seorang siswa yang sedang tertawa bersama beberapa temannya di sudut kantin.
Anak itu mengenakan seragam yang sama.
Rambut hitamnya tersisir rapi.
Senyumnya terasa begitu akrab.
Antonio terdiam.
"Hm..."
Salah satu temannya menoleh.
"Kenapa, Ton?"
Antonio masih menatap ke arah siswa itu.
"Nggak tahu kenapa... wajah anak itu terasa sangat familiar bagi aku."