Bab 7 - Sahabat, Musik, dan Basket
Hari-hari di SMP Negeri 15 Surabaya kini terasa jauh lebih berwarna bagi Arsen dan Antonio.
Setelah pertemuan yang mengharukan di aula sekolah, mereka kembali seperti dulu. Setiap pagi mereka berangkat bersama menggunakan sepeda masing-masing. Rumah mereka ternyata hanya berjarak sekitar lima belas menit, sehingga hampir setiap hari mereka saling menunggu di sebuah pertigaan jalan.
"Telat lagi, Ton," goda Arsen sambil tertawa.
Antonio tersenyum lebar.
"Aku harus memastikan bola basketku ikut terbawa."
"Kamu sama saja dari dulu." Lanjut Arsen
"Kamu juga. Masih suka bawa gitar ke mana-mana." Balas Antonio
Mereka tertawa bersama, membuat kenangan masa kecil perlahan kembali hidup.
Meski berada di kelas yang berbeda, mereka selalu bertemu saat jam istirahat.
Teman-teman sekolah mulai mengenal keduanya.
"Itu Arsen anak musik."
"Yang sebelahnya Antonio, anak basket."
"Aneh ya, hobinya beda banget."
Namun justru perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka semakin unik.
Suatu siang, Antonio mengajak Arsen ke lapangan basket.
"Sen, coba lempar bola."
Arsen tertawa gugup.
"Aku? Haha Bisa pegang gitar, belum tentu bisa pegang bola basket."
"Coba saja." Desak Antonio
Arsen melempar bola ke arah ring.
Bola memantul jauh dari sasaran.
Teman-teman langsung tertawa kecil.
Antonio menepuk bahu sahabatnya.
"Nggak apa-apa. Semua juga belajar dari awal."
Keesokan harinya giliran Antonio menemani Arsen di ruang musik.