Bab 12 - Hari Penentuan
Hari yang telah lama dinantikan akhirnya tiba.
Matahari pagi menyinari Kota Surabaya dengan cerah, seolah ikut memberi semangat kepada para pelajar yang akan berjuang mengejar impian mereka.
Bagi Arsen dan Antonio, hari itu bukanlah hari biasa.
Hari itu adalah hari penentuan.
Arsen mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi sambil membawa gitar kesayangannya.
Ibunya merapikan kerah bajunya.
"Kamu gugup ya nak?"
Arsen tersenyum kecil.
"Sedikit bu."
Ibunya menggenggam kedua tangannya.
"Ingat, menang atau tidak, Ibu sudah bangga karena kamu berani mengejar mimpimu nak."
Arsen mengangguk mantap.
Di rumah Antonio, suasana juga tak kalah menegangkan.
Antonio sedang mengikat tali sepatunya.
Ayahnya menyerahkan bola basket yang telah menemaninya berlatih selama bertahun-tahun.
"Bola ini mungkin gak ikut masuk ke lapangan nanti."
"Tapi semangatmu harus tetap ikut ya nak."
Antonio tersenyum.
"Siap, yah."
Sebelum berangkat ke tempat perlombaan masing-masing, mereka berjanji bertemu sebentar di gerbang sekolah.
"Sen!"
Antonio berlari kecil menghampiri.
"Gimana kamu siap?"
Arsen mengangguk.
"Kamu?"
"Siap juga."
Mereka saling menatap.
Tak perlu banyak kata.
Antonio mengulurkan tangan.
"Apapun hasilnya..."
Arsen menyambung kalimat itu.
"...kita tetap pulang sebagai sahabat."
Mereka berjabat tangan erat.
"Semangat!"
"Semangat!"
Lalu keduanya berpisah menuju tempat perlombaan masing-masing.
Gedung Kesenian Kota Surabaya dipenuhi para peserta lomba cipta lagu.