BAB 15 - Panggung dan Lapangan Impian
Pagi itu, Kota Malang diselimuti udara yang sejuk.
Ratusan pelajar terbaik dari berbagai kota di Jawa Timur mulai memenuhi area Pekan Prestasi Pelajar Tingkat Provinsi. Spanduk besar berwarna biru membentang di pintu masuk, menyambut seluruh peserta yang datang membawa impian mereka masing-masing.
Arsen menggenggam erat tas gitar di pundaknya.
Di sisi lain, Antonio membawa tas berisi perlengkapan basket.
Mereka berdiri beberapa saat di depan gedung utama.
"Gimana Siap?" tanya Antonio.
Arsen mengangguk sambil tersenyum.
"Siap."
Antonio mengulurkan tangan.
"Apapun hasilnya hari ini..."
Arsen menggenggamnya erat.
"...kita tetap pulang dengan kepala tegak."
Perlombaan mereka berada di lokasi yang berbeda.
Arsen menuju Gedung Kesenian Jawa Timur.
Antonio menuju GOR Provinsi.
Sebelum berpisah, mereka saling memberi salam.
"Semoga sukses."
"Semoga sukses."
Di ruang tunggu peserta musik, Arsen melihat banyak peserta membawa alat musik modern dengan kemampuan yang luar biasa.
Ada yang memainkan piano.
Ada yang membawa biola.
Ada pula grup band lengkap.
Sesaat ia merasa minder.
Namun Bu Ratna menepuk bahunya.
"Arsen."
"Iya, Bu?"
"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain."
"Ceritakan saja kisahmu."
"Itulah kekuatanmu."
Arsen tersenyum pelan.
"Baik, Bu."
Sementara itu...