Bab 18 - Gerbang Masa Depan
Mentari pagi menyinari halaman SMP Negeri 15 Surabaya.
Hari itu bukan hari biasa.
Seluruh siswa kelas IX berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pengumuman hasil ujian akhir sekaligus pelepasan siswa.
Suasana dipenuhi rasa gugup.
Arsen duduk di samping Antonio.
Meski sama-sama berusaha tenang, tangan mereka sesekali menggenggam erat buku yang ada di pangkuan.
"Sen apa kamu deg-degan?" tanya Antonio pelan.
Arsen tersenyum kecil. "Sedikit."
Antonio mengangguk."Aku juga."
Kepala sekolah naik ke atas panggung.
Beliau memandang seluruh siswa dengan bangga.
"Anak-anakku..."
"Hari ini bukanlah akhir."
"Hari ini adalah gerbang menuju masa depan."
Semua siswa terdiam.
"Hasil ujian kalian sangat membanggakan."
Beliau mulai membacakan nama-nama siswa berprestasi.
"Peringkat Pertama Akademik diraih oleh..."
"...Arsen Yanuar."
Seluruh aula bergemuruh oleh tepuk tangan.
Arsen berdiri dengan wajah terkejut.
Antonio tersenyum paling lebar sambil bertepuk tangan.
Tak lama kemudian...
"Dan penghargaan Siswa Berprestasi Nonakademik tahun ini diberikan kepada..."
"...Antonio Putra."
Kini giliran Arsen yang berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah.
Keduanya saling tersenyum bangga.
Tidak ada rasa iri.
Yang ada hanyalah kebahagiaan melihat sahabatnya berhasil.
Setelah acara selesai, mereka berjalan menuju taman sekolah.
Di bawah pohon yang rindang, mereka kembali duduk di bangku favorit mereka.