Bab 20 - Janji yang Tak Pernah Pudar (TAMAT)
Mentari pagi menyinari Gelora Pancasila Surabaya, tempat berlangsungnya Festival Persahabatan Pelajar Surabaya.
Ratusan siswa dari berbagai SMA memenuhi arena.
Di satu sisi gedung, terdengar riuh sorak penonton yang menyaksikan pertandingan basket.
Di sisi lain, panggung seni telah dipenuhi alat musik, lampu, dan dekorasi.
Hari itu...
Arsen dan Antonio datang bukan sebagai siswa SMP lagi.
Mereka hadir sebagai wakil dari sekolah masing-masing.
Namun jauh di dalam hati, mereka tetap dua anak kecil dari Tasikmalaya yang pernah berjanji untuk tidak saling melupakan.
Antonio mengenakan seragam tim basket SMA Negeri 5 Surabaya.
Sebelum memasuki lapangan, pelatih menepuk bahunya.
"Hari ini bukan hanya soal menang."
"Tunjukkan bahwa seorang pemimpin mampu mengangkat seluruh tim."
Antonio mengangguk mantap.
Di saat yang hampir bersamaan, Arsen berdiri di belakang panggung sambil memegang gitar kesayangannya.
Guru pembimbing musik berkata, "Bernyanyilah dengan hati."
"Karena lagu yang berasal dari hati akan selalu sampai ke hati orang lain."
Arsen menarik napas panjang.
Ia siap.
Pertandingan basket dimulai.
Lawan SMA Negeri 5 terkenal sebagai juara bertahan.
Pertandingan berlangsung sengit.
Antonio beberapa kali mencetak poin penting.
Namun yang paling menonjol adalah caranya memberi semangat kepada rekan-rekannya.
"Tenang!"
"Kita masih bisa!"
"Percaya satu sama lain!"
Di detik-detik terakhir, Antonio memberikan umpan kepada temannya yang berdiri bebas.
Bola meluncur...
Masuk!
Peluit panjang berbunyi.
SMA Negeri 5 memenangkan pertandingan dengan selisih satu angka.
Antonio tidak berlari merayakan kemenangan.
Ia lebih dulu membantu pemain lawan yang terjatuh.
Penonton memberikan tepuk tangan yang lebih meriah daripada saat timnya menang.
Karena hari itu, yang menang bukan hanya tim basket.
Melainkan juga sportivitas.
Sore harinya giliran pertunjukan seni.
Lampu panggung perlahan menyala.