Malam itu, tanggal 9 Februari 2015, jarum jam di dinding warung makan tempatku bekerja sudah bertengger di angka sebelas malam. Suasana kota mulai senyap, menyisakan deru angin malam yang berembus pelan menembus celah kaca depan. Di sudut meja dekat jendela, menjadi saksi di mana Kartika dan aku, Dimas, saling menatap dalam dan mengucapkan sebuah janji sederhana untuk selalu berjalan bersama, apa pun yang akan terjadi di depan nanti.
Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat di masa lalu, hingga malam itu aku merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung di muka bumi. Di atas kertas realita yang sering dinilai orang, aku hanyalah seorang pemuda yang bekerja di warung rumah makan biasa. Sebuah pekerjaan halal yang kujalani dengan kepala tegak demi membangun kemandirian hidup. Namun, malam itu, takdir mempertemukanku dengan seorang wanita yang pesonanya mampu membuat malam terasa berhenti berputar.
Kartika duduk di hadapanku dengan keanggunan yang alami. Wajahnya bulat berseri, dengan kulit bersih yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu ruangan, persis seperti keindahan bulan purnama yang sempurna di langit Februari. Ia tidak hanya cantik secara rupa; caranya berbicara, pembawaannya yang terdidik, hingga penampilannya yang modis mempertegas bahwa kelas ekonominya berada beberapa tingkat di atas duniaku.
Ada jurang strata sosial yang nyata membentang di antara kami jika orang lain melihatnya dari luar. Pakaian yang ia kenakan dan parfum mahal yang melekat di tubuhnya menandakan dia berasal dari lingkungan yang serba berkecukupan. Sementara aku, adalah pria yang akrab dengan peluh dunia kerja untuk menyusun masa depan kata demi kata. Namun, malam itu, perbedaan kelas tersebut seolah luruh tak bersisa. Di hadapan Kartika, aku tidak tampil sebagai pria yang rendah diri atau kikuk karena status sosial. Aku memastikan diriku malam itu tetap rapi, wangi, dengan kemeja kasual yang bersih, dan menatapnya dengan tatapan pria dewasa yang punya prinsip. Ketulusan janji yang kami ucapkan malam itu mengalahkan semua hitungan materi yang biasa diagungkan dunia.
Kartika sedikit condong ke depan, menatapku dengan binar mata yang penuh harap. Ada ketulusan yang murni terpancar dari wajah bulat indahnya yang berseri malam itu.
"Mas Dimas, besok sore bisa ke rumahku?" tanya Kartika, suaranya terdengar lembut namun terselip nada tegas yang menandakan urusan ini cukup penting baginya.
Aku menyunggingkan senyum tenang, menaruh cangkir di atas meja dengan gerakan yang santai. "Jam berapa, Neng?"
Kartika tidak langsung menyebutkan angka. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku seolah sedang menakar kesibukan harian pria yang sedang diperjuangkannya ini. "Mas Dimas sendiri, masuk kerja jam berapa biasanya?"
"Jam tujuh malam sampai pagi, Neng," jawabku santai tanpa ada kesan mengeluh. Jadwal sif malam warung ini memang padat, tetapi itu adalah tanggung jawab yang sudah biasa kukelola dengan profesional.
Mendengar jawabanku, gurat kecewa yang manis sempat melintas sesaat di wajahnya. "Berarti tiap hari bergadang dong? Berarti enggak bisa dong kalau malam, Mas?"