Tepat pukul delapan malam, aku menghentikan motor matik pinjaman dari Andi di bawah bayangan pohon peneduh jalan, beberapa meter dari pagar besi kokoh yang memagari rumah megah milik keluarga Kartika. Rumah itu berdiri angun, dengan lampu-lampu taman yang mewah. Aku merapikan jaket jins bersih yang kupadukan dengan kaos polos sewarna, memastikan penampilanku malam ini benar-benar prima. Di atas motor, aku meraba ponsel di saku celana yang mendadak bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
"Mas, jadikan malam ini ke rumah?" tanya Kartika lewat aplikasi pesan singkat, menyiratkan rasa tidak sabar yang besar.
Aku menyunggingkan senyum jail. Jari-jariku bergerak cepat di atas layar, mengetikkan balasan yang bertolak belakang dengan kenyataan. "Yah maaf Neng, malam ini enggak bisa. Enggak dapat izin dari bos... Maaf yaa."
Dari posisiku yang agak tersembunyi, aku bisa melihat dengan jelas ke arah teras rumahnya yang luas melalui celah pagar besi. Kartika sedang duduk di kursi beranda sambil menggenggam ponselnya. Begitu pesanku terkirim, aku menyaksikan dari jauh bagaimana wajah cantiknya yang bulat berseri itu langsung berubah kesal. Alisnya bertaut, dan bibirnya mengerucut gemas.
Ponselku kembali bergetar dengan cepat. "Ih kok gitu? Kemarin katanya janji bisa, sekarang enggak bisa. Gimana sih, Mas?" balas Kartika, lengkap dengan raut muka cemberut yang bisa kubayangkan dengan jelas dari balik kata-katanya.
Aku tertawa kecil tanpa suara. Mengetahui bahwa kehadiranku begitu berharga baginya membuat kepercayaan diriku sebagai seorang pria semakin mantap. Sudah cukup menjahilinya. Aku memutar kunci kontak, memajukan motor sedikit hingga tepat berada di depan pintu gerbang utama yang tertutup, lalu menekan tombol klakson dua kali.
Tiin! Tiiiiin!
Bunyi klakson motor yang nyaring itu memecah kesunyian pelataran rumah megah tersebut. Dari kejauhan, aku melihat Kartika langsung tersentak. Ia menatap ke arah gerbang, mengenali sosok pria berjaket jins yang sedang duduk di atas motor matik hitam sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Seketika itu juga, gurat kekesalan di wajahnya runtuh. Kartika langsung berdiri dari kursi teras. Ia berjalan melangkah keluar menuju gerbang dengan gaya yang dibuat-buat seolah-olah malas dan kesal karena habis dibohongi, padahal binar matanya yang berbinar jenaka tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bahagia yang membuncah akibat kejutan kedatanganku yang tak terduga ini.
Begitu melangkah mendekati pagar gerbang yang kubuka sendiri, Kartika langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatapku dengan mata yang menyipit, berpura-pura ketus untuk menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap.
"Katanya enggak bisa, katanya enggak boleh, kok tahu-tahu di depan rumah? Dah sono pulang lagi kalau enggak bisa!" seru Kartika, mengibaskan tangannya seolah-olah mengusirku keluar dari pelatarannya.
Aku sengaja menahan tawa, tetap duduk santai di atas motor matik sambil menatap wajah bulat berserinya yang menggemaskan. "Beneran nih, aku pulang nih?" tanyaku memancing, sambil pura-pura memegang kembali setang motor dan bersiap memutar arah.
Melihat respons gertakanku, Kartika langsung panik. Sikap pura-pura ketusnya luruh seketika. "Ih, Mas Dimas ngeselin!" pekiknya gemas.
Ia melangkah cepat mendekatiku, lalu dengan manja menarik lembut lengan jaket jinsku, menahan agar aku tidak benar-benar pergi meninggalkan rumahnya malam ini. Sentuhan lembutnya seolah meruntuhkan sisa-sisa kelelahan akibat seharian bekerja dan mempersiapkan sif malamku nanti. Aku tersenyum, mematikan mesin motor, lalu melangkah bersamanya menuju ke dalam area rumahnya yang megah.