Motor matik pinjaman milik Andi melaju stabil membelah aspal jalan raya yang mulai lengang. Embusan angin malam Februari terasa menerpa wajahku, membawa sedikit kesejukan di tengah kehangatan posisi kami yang sedang berboncengan. Kartika di belakang duduk dengan tenang, menyandarkan dagunya sedikit dekat ke arah pundakku agar suaranya tidak tenggelam oleh deru angin dan mesin motor.
Namun, ketenangan malam itu mendadak koyak saat Kartika membuka suara, meluncurkan sebuah pengakuan yang sama sekali tidak kuprediksi sebelumnya.
"Mas, beberapa hari yang lalu sudah ada tiga cowok yang bilang suka sama aku, tapi aku enggak suka ketiganya," ucap Kartika setengah berbisik di dekat telingaku.
Mendengar kalimat itu, tanganku yang sedang memegang tuas gas refleks menegang sesaat. Aku terdiam seribu bahasa. Di balik helm yang kukenakan, jantungku mendadak berdebar dengan ritme yang sangat kacau. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadaku, menyumbat aliran napas hingga terasa begitu sempit. Rasa takut yang selama ini kusembunyikan dalam-dalam di balik topeng ketenanganku kini mendadak mencuat ke permukaan. Logikaku langsung berputar liar, dihantui bayangan mengerikan jika salah satu dari pria-pria itu sanggup merebut perhatian dan memalingkan hati Kartika dariku.
Belum sempat aku menata detak jantungku yang berantakan, Kartika kembali melanjutkan ceritanya dengan nada suara yang terdengar sangat frustrasi dan kebingungan.
"Yang satu teman satu kantor, yang satu temanku semasa kuliah, yang satu manajerku sendiri," lanjut Kartika, membeberkan deretan profil para pesaingku yang di atas kertas memiliki masa depan dan kemapanan yang jauh melampaui pelayan warung rumah makan sepertiku. "Aku harus gimana yaak, Mas? Aku enggak suka, beneran deh aku enggak suka sama mereka."
Aku menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram setang motor lebih erat untuk menjaga fokus berkendara sekaligus mengendalikan emosiku. Pernyataan Kartika yang menegaskan bahwa dia "tidak suka" kepada ketiganya adalah sebuah penegasan yang sangat melegakan, bagaikan tetesan air es di tengah tenggorokanku yang sedang kering terbakar. Namun, kenyataan bahwa dia dikelilingi oleh pria-pria mapan dari dunianya tetap meninggalkan hantaman telak pada harga diriku sebagai seorang lelaki yang sedang berjuang dari bawah. Di bawah temaram lampu kota, aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dada dan bersiap memberikan respons terbaik yang tetap berwibawa, tanpa memperlihatkan sedikit pun rasa minder di hadapan wanita yang mempercayakan rahasianya kepadaku ini.
Namun, aku sama sekali tidak menyangka bahwa cerita tentang tiga cowok itu ternyata belum seberapa. Ada satu nama lagi yang belum disebutkan Kartika malam itu—dan nama itu akan membuat dadaku jauh lebih sesak begitu kami sampai di tempat tujuan.