Kartika menatap layar ponselnya yang masih bergetar. Bukan panggilan lanjutan dari Raditya seperti dugaanku, melainkan notifikasi pesan WhatsApp yang masuk beruntun. Ia membuka pesan itu dengan jari yang sedikit gemetar, lalu wajahnya berubah semakin tegang begitu membaca isi pesan tersebut.
"Ibu," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Nyuruh aku pulang sekarang juga."
"Ada apa, Neng?" tanyaku, mencoba menahan rasa penasaran yang bercampur dengan kekhawatiran akan telepon Raditya barusan.
Kartika menggeleng pelan, memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya dengan gerakan tergesa. "Enggak tahu, Mas. Ibu cuma bilang suruh cepetan pulang. Kedengarannya... penting."
Aku mengangguk, segera bangkit dari kursi dan mengeluarkan uang untuk membayar pesanan kami sebelum Kartika sempat protes. Di tengah kepanikan kecil yang menyelimuti wajahnya, aku ingin setidaknya menjadi sosok yang bisa diandalkan malam itu, bukan menambah beban pikirannya.
Namun, di balik raut cemas itu, ada sesuatu yang lain yang tersimpan di mata Kartika. Sesuatu yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan pesan ibunya. Ia menatapku sekilas sebelum kami melangkah keluar dari Cafe Sama Dengan, dan dalam tatapan itu tersirat sebuah harapan yang tidak terucap—harapan bahwa sosok yang baru saja ia gambarkan dengan begitu jelas di meja kafe tadi, sosok yang dewasa, pekerja keras, humoris, dan berwibawa, bisa segera berani mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Sebab jauh di dalam hatinya, Kartika sendiri sudah lama menyimpan perasaan yang sama untuk pria itu, hanya saja ia tidak tahu apakah pria itu berani mengambil langkah pertama sebelum semuanya menjadi terlambat.
Kami berjalan cepat menuju motor matik yang terparkir di pinggir jalan dekat kafe. Malam semakin larut, dan waktu sif kerjaku pun semakin dekat. Aku menyalakan mesin motor, menunggu Kartika naik ke jok belakang sebelum akhirnya kami melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang.