Waktu seakan berhenti berputar. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri menggedor-gedor dadaku, keras seperti suara klakson yang tadi malam sengaja kubunyikan untuk menjahili Kartika. Namun kali ini tidak ada unsur jenaka sama sekali—yang ada hanyalah aku, berdiri kaku di depan gerbang, ditatap oleh sepasang mata seorang ayah yang jelas-jelas sedang menakar siapa pemuda asing yang baru saja turun dari motor bersama putrinya.
Kartika buru-buru melangkah maju, berdiri di antara aku dan kedua orang tuanya seolah ingin menjadi penyangga dari ketegangan yang mendadak muncul. "Ayah, Ibu... ini Mas Dimas. Temanku," ucapnya, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar seyakin mungkin.
Aku bisa merasakan getaran kecil dalam suaranya, tanda bahwa kata "teman" itu diucapkan bukan karena ia ingin menyembunyikan hubungan kami, melainkan karena situasi mendadak ini belum memberinya waktu untuk menjelaskan segalanya dengan lebih utuh.
"Teman?" Pria yang belakangan kutahu bernama Pak Hendra itu mengulang kata terakhir Kartika dengan nada yang sulit ditebak—entah menyelidik, entah meragukan. Sorot matanya kembali menelusuri penampilanku dari atas ke bawah, seolah sedang membaca setiap detail: jaket jins yang mulai lusuh karena angin malam, sepatu kets yang jauh dari kata mewah, dan motor matik pinjaman yang terparkir di belakangku.
Aku menegakkan bahu, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kepercayaan diri yang sempat runtuh beberapa detik lalu. Jika aku goyah sekarang, semua yang telah kubangun bersama Kartika bisa runtuh dalam sekejap hanya karena ketakutan sesaat.
"Selamat malam, Pak, Bu," ucapku, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat, suaraku kubuat setegas mungkin meski dadaku masih berdebar kencang. "Saya Dimas. Mohon maaf mengganggu waktu Bapak dan Ibu malam-malam begini."
Bu Ratna, yang berdiri di belakang suaminya, tersenyum tipis—jauh lebih lembut dibanding tatapan suaminya. "Dimas kerja di mana, Nak?"
Pertanyaan itu menghantam titik yang paling kutakutkan sejak awal. Aku menarik napas sejenak, memutuskan bahwa kejujuran adalah satu-satunya senjata yang kupunya malam ini. "Saya bekerja di warung makan, Bu. Sudah beberapa tahun."