JANJI DI BULAN FEBRUARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #7

BAB 7: Tamu yang Tak Diundang

Ruang tamu yang luas itu mendadak terasa sesak, meski jendela-jendela besar di sekelilingnya masih terbuka lebar menyambut angin malam. Kalimat Pak Hendra menggantung di udara, membuat seisi ruangan membeku dalam keheningan yang menyakitkan.

Aku menatap wajah Kartika yang berubah pucat, lalu menatap Pak Hendra yang duduk tenang namun penuh wibawa di sofa utama. Dalam hitungan detik, seluruh rencana malam ini—yang tadinya hanya sekadar perkenalan sederhana—berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan menegangkan dari yang pernah kubayangkan.

Kartika bangkit dari duduknya, wajahnya memucat sempurna. "Ayah, itu... itu Pak Raditya, kan?"

Pak Hendra mengangguk pelan. "Kamu sudah tahu?"

"Dia telepon aku tadi, Yah. Aku sudah bilang aku belum bisa jawab," ucap Kartika, suaranya bergetar antara marah dan panik. "Aku enggak nyangka dia bakal langsung ngomong ke Ayah tanpa nunggu jawaban aku dulu."

Aku menatap wajah Kartika yang berjuang menahan gejolak emosinya sendiri, dan diam-diam kagum dengan keberanian yang ia tunjukkan di hadapan kedua orang tuanya—sebuah keberanian yang selama ini mungkin tidak pernah ia perlihatkan sebelum malam ini datang menguji semuanya.

Aku duduk mematung di sofa, merasa seperti orang asing yang tiba-tiba terjebak di tengah drama keluarga yang sama sekali bukan urusanku. Namun di saat yang sama, setiap kata yang terucap terasa menghantam telak, membuka lebar-lebar jurang perbedaan yang selama ini coba kutepis dengan kepercayaan diri semu.

Aku melirik ke arah pintu sesekali, membayangkan bagaimana wajah Raditya nanti begitu ia menyadari ada sosok lain yang duduk berdampingan dengan Kartika di ruang tamu ini. Rasa cemas dan penasaran bercampur menjadi satu, membuat setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak bisa kuhindari lagi.

Bu Ratna, yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya angkat bicara dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding suaminya. "Kartika, Pak Raditya itu orangnya baik, sudah mapan, dan keluarganya juga terpandang. Ayah sama Ibu cuma pengin yang terbaik buat kamu."

Lihat selengkapnya