Kalimat Kartika masih menggantung di udara, menciptakan keheningan yang begitu tebal hingga bisa kurasakan denyut jantungku sendiri berdetak keras di telinga. Aku menatap Raditya yang berdiri di seberang ruangan, sosok yang selama ini hanya kubayangkan lewat cerita Kartika kini nyata berdiri di hadapanku—rapi, mapan, dan penuh wibawa persis seperti yang selama ini kutakutkan.
Ruangan itu terasa seperti medan pertarungan yang sunyi, tanpa teriakan atau adu fisik, namun setiap tatapan dan setiap kalimat yang terlontar terasa jauh lebih menegangkan dari perkelahian mana pun yang pernah kubayangkan. Aku menggenggam tanganku sendiri erat-erat di balik saku jaket, mencoba menahan gemetar yang mulai menjalar tanpa bisa kukendalikan sepenuhnya.
"Ini... bercanda kan?" Raditya akhirnya membuka suara, tawanya terdengar dipaksakan, mencoba menutupi keterkejutan yang jelas tergambar di wajahnya. Ia menatap Kartika, lalu berpindah menatapku dengan tatapan yang kini penuh selidik. "Kartika, kamu serius?"
Aku berdiri diam di tempatku, membiarkan Kartika yang menjawab lebih dulu. Namun di dalam hati, aku sudah bersiap menghadapi apa pun reaksi yang akan datang setelahnya—baik dari Raditya, maupun dari kedua orang tua Kartika yang jelas-jelas lebih mengenal dan mempercayai sosok manajer mapan itu dibanding diriku yang baru saja mereka temui malam ini.
"Serius, Pak," jawab Kartika tegas, tangannya menggenggam erat ujung lengan jaketku, seolah ingin menegaskan pada seisi ruangan bahwa keputusannya sudah bulat. "Maaf kalau ini enggak sesuai harapan Bapak. Tapi saya enggak bisa bohong sama perasaan saya sendiri."
Aku merasakan hangatnya genggaman tangan Kartika menjalar hingga ke dadaku, memberi keberanian yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Untuk pertama kalinya malam ini, aku merasa tidak sendirian menghadapi ujian yang jauh lebih berat dari sekadar bertemu orang tua kekasih—aku sedang menghadapi seluruh dunia yang selama ini membentuk keraguan dalam diriku sendiri.
Orang tua Raditya yang berdiri di belakangnya tampak canggung, saling berbisik pelan sebelum akhirnya sang ayah melangkah maju, mencoba mencairkan suasana yang mendadak berubah kaku. "Hendra, sepertinya kita perlu bicara berdua dulu," ucapnya kepada Pak Hendra, nada suaranya berusaha terdengar santai meski jelas ada rasa tidak nyaman yang tersirat.