Setelah Pak Hendra dan Bu Ratna beranjak masuk ke kamar, ruang tamu itu menyisakan aku dan Kartika berdua dalam keheningan yang aneh—campuran antara lega karena badai sudah reda, dan cemas karena badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bibi membereskan cangkir-cangkir minuman yang tadi sempat tersaji untuk tamu, sementara Pongky tampak masih bersembunyi di bawah meja, seolah ikut merasakan tegangnya suasana malam ini.
Aku melirik jam tangan, dan seketika jantungku berdegup lebih kencang bukan karena Kartika, melainkan karena kesadaran bahwa sif malamku sudah molor lebih dari dua jam. Andi pasti sudah kelabakan sendirian menjaga warung.
Namun sebelum aku benar-benar melangkah keluar, aku sempat menoleh sekali lagi ke arah Kartika, menyimpan bayangan wajahnya yang meski lelah tetap terlihat begitu berharga bagiku. Malam ini telah mengubah banyak hal—bukan hanya soal pengakuan di depan orang tuanya, tetapi juga soal betapa besar taruhan yang kini sedang kami pertaruhkan berdua.
"Neng, aku... aku harus pulang sekarang. Kerjaanku udah kelewat jauh dari jadwal," ucapku, suaraku masih terdengar sedikit serak akibat ketegangan yang belum sepenuhnya reda.
Kartika mengangguk pelan, matanya masih menyisakan kelelahan emosional dari drama yang baru saja terjadi. "Maaf ya, Mas. Gara-gara aku, jadi ribet begini."
"Enggak apa-apa," jawabku, mencoba tersenyum meski di dalam dada masih berkecamuk berbagai perasaan. "Justru aku yang harusnya bilang makasih. Kamu berani banget ngomong tadi di depan orang tua sama Pak Raditya."
Pipi Kartika sedikit merona mendengar pujian itu, meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran yang jelas belum sepenuhnya hilang. "Aku takut, Mas. Takut Ayah sama Ibu enggak bakal restui kita. Takut satu bulan itu enggak cukup buat ngebuktiin apa-apa."
Aku menghela napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang bisa menenangkan sekaligus jujur. "Satu bulan itu emang enggak lama, Neng. Tapi aku percaya, ketulusan itu enggak butuh waktu lama buat kelihatan. Yang penting kita berdua sama-sama yakin."
Kartika menatapku lama, seolah sedang mencari kepastian dari setiap kata yang baru saja kuucapkan. Aku bisa melihat sepasang matanya yang biasanya penuh binar jenaka kini menyimpan kedalaman emosi yang berbeda—campuran antara ketakutan kehilangan dan harapan yang masih coba ia pertahankan mati-matian.
Kartika mengangguk, meski matanya masih menyiratkan keraguan yang belum sepenuhnya terjawab. Ia mengantarku sampai ke depan gerbang, di mana motor matik pinjaman Andi masih setia menunggu di bawah bayangan pohon.