JANJI DI BULAN FEBRUARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #10

Rencana di Balik Meja Warung

Keesokan harinya, sore menjelang sif malam dimulai, Andi memanggilku ke ruang kerjanya yang biasa dipakai untuk menghitung nota belanja. Kali ini, meja kayu yang biasanya penuh tumpukan kertas itu tampak lebih rapi, seolah Andi sudah menyiapkan sesuatu yang serius untuk dibicarakan.


Aku melangkah masuk dengan perasaan campur aduk, masih menyisakan sisa kelelahan dari drama semalam, namun juga dipenuhi rasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan bosku ini. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, aku sempat memikirkan berbagai kemungkinan—mulai dari teguran karena keterlambatan semalam, hingga nasihat sederhana ala kakak kepada adiknya.


"Duduk, Dim," ucap Andi, menunjuk kursi di depannya dengan gestur yang jauh lebih formal dibanding biasanya.


Aku duduk dengan perasaan campur aduk, penasaran sekaligus sedikit gugup dengan rencana apa yang akan disampaikan bosku ini. "Ada apa, Bos? Kayak serius banget mukanya."


Andi menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya saling bertaut di atas meja. "Gini, Dim. Semalam gue mikir panjang soal cerita lu. Satu bulan itu emang kedengarannya singkat, tapi kalau lu manfaatin dengan bener, itu udah lebih dari cukup buat nunjukin ke keluarga Kartika kalau lu enggak cuma modal cinta doang."


"Maksudnya, Bos?" tanyaku, masih belum sepenuhnya menangkap arah pembicaraan ini.


"Raditya itu udah punya jabatan, gaji tetap, sama restu orang tuanya yang jelas udah kenal keluarga Kartika lebih dulu lewat jalur bisnis," jelas Andi, nadanya serius seperti sedang memberi arahan kerja. "Lu enggak bisa ngalahin dia dari segi materi. Tapi lu bisa ngalahin dia dari segi lain—usaha dan progres yang kelihatan nyata."


Aku terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Andi yang meski sederhana namun terasa begitu tepat sasaran. Selama ini aku selalu merasa minder membandingkan diriku dengan pria-pria mapan yang mengelilingi kehidupan Kartika, namun perkataan Andi barusan seolah membuka perspektif baru bahwa pertarungan ini tidak harus dimenangkan dengan cara yang sama seperti yang dimiliki lawan.


Aku mengangguk perlahan, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Andi. "Progres kayak apa maksud Bos?"


Lihat selengkapnya