Aku menatap layar ponsel itu cukup lama, mempertimbangkan setiap kemungkinan yang bisa terjadi jika aku menerima ajakan Raditya untuk bertemu berdua. Di satu sisi, aku merasa ini adalah jebakan yang bisa saja membahayakan posisiku di mata Kartika maupun keluarganya. Namun di sisi lain, ada dorongan dalam diriku untuk menghadapi Raditya secara langsung, dari pria ke pria, tanpa perantara siapa pun.
Warung mulai ramai dengan pelanggan malam yang datang silih berganti, namun pikiranku sepenuhnya tertuju pada layar ponsel di genggaman. Andi masih berdiri di sampingku, menunggu keputusan apa yang akan kuambil menghadapi tawaran pertemuan yang terasa penuh teka-teki ini.
"Aku harus ketemu dia, Bos," ucapku akhirnya, menatap Andi dengan keyakinan yang mulai terbentuk. "Kalau aku hindari terus, dia bisa aja mikir aku takut. Aku enggak mau kelihatan lemah di depan dia."
Andi menghela napas, menggaruk kepalanya yang tidak gatal—kebiasaan khasnya setiap kali sedang berpikir keras. "Ya udah, tapi lu jangan sendirian ketemu dia di tempat yang aneh-aneh. Ketemu di tempat umum aja, biar aman."
Aku mengangguk setuju, lalu membalas pesan Raditya dengan menyepakati pertemuan di sebuah kedai kopi tidak jauh dari warung, sekitar satu jam sebelum sif malamku dimulai. Waktu yang cukup singkat, namun kupikir cukup untuk sekadar mendengar apa yang ingin ia sampaikan.
Sore itu, aku tiba di kedai kopi yang telah disepakati, jauh lebih sederhana dibanding Cafe Sama Dengan tempat aku dan Kartika biasa nongkrong. Raditya sudah duduk di salah satu meja pojok, mengenakan kemeja formal yang rapi meski terlihat sedikit kusut, mungkin karena kesibukan kerjanya seharian.
Aku melangkah mendekati mejanya dengan langkah yang kubuat setegas mungkin, mencoba menutupi kegugupan yang sebenarnya masih bersarang di dalam dada. Ini adalah pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan Raditya tanpa kehadiran Kartika maupun keluarganya sebagai penengah, dan entah kenapa suasana itu terasa jauh lebih menegangkan dibanding malam pertemuan dengan orang tua Kartika beberapa hari lalu.
"Duduk," ucap Raditya singkat, menunjuk kursi di hadapannya tanpa basa-basi lebih lanjut.
Aku menempati kursi yang ditunjuknya, memperhatikan sekilas suasana kedai kopi yang cukup ramai oleh para pekerja kantoran yang baru saja menyelesaikan aktivitas sore mereka, sama sekali berbeda dengan suasana warung tempatku bekerja yang lebih ramai justru saat malam menjelang.