JANJI DI BULAN FEBRUARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #12

Dua Sisi Tekanan

Kedai kopi sore itu terasa semakin sunyi, meski beberapa pengunjung lain masih hilir mudik di sekitar kami. Pengakuan Raditya barusan membuka sisi lain dari sosok yang selama ini kuanggap sebagai musuh utama dalam perjuangan cintaku terhadap Kartika.

Aku menatap cangkir kopiku sendiri yang sudah setengah kosong, mencoba mencerna betapa rumitnya kehidupan seseorang yang di permukaan terlihat begitu sempurna—jabatan mapan, penampilan rapi, restu keluarga yang mudah didapat. Namun ternyata di balik semua itu, Raditya juga menyimpan kegelisahannya sendiri yang tidak kalah beratnya dengan yang selama ini kurasakan sebagai pelayan warung yang serba kekurangan.

"Jadi, Bapak sebenarnya enggak cinta sama Kartika?" tanyaku hati-hati, mencoba memastikan apa yang baru saja kudengar. Pertanyaan itu terasa berat untuk diucapkan, namun aku merasa perlu mendapatkan kejelasan langsung dari mulutnya sendiri.

Raditya menghela napas panjang, jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran cangkir kopi yang sudah mulai dingin. "Aku enggak bilang gitu juga. Kartika itu wanita yang baik, cerdas, dan enak diajak ngobrol. Tapi apa itu cukup buat dasar pernikahan? Aku sendiri masih ragu."

"Kalau Bapak ragu, kenapa masih ngotot ngelamar dia kemarin?" tanyaku, penasaran dengan logika di balik tindakan Raditya yang terkesan terburu-buru.

"Karena orang tuaku udah nagih terus, Dimas. Umur aku udah 32 tahun. Di keluarga aku, itu udah dianggap telat buat nikah," jawab Raditya, nada suaranya kini terdengar lelah, jauh dari kesan berwibawa yang biasa ia tunjukkan. "Setiap kumpul keluarga, pertanyaannya cuma itu-itu aja. Kapan nikah, kapan kasih cucu. Aku capek, Dimas. Kartika itu jalan keluar paling gampang yang aku punya sekarang."

Mendengar penjelasan itu, aku jadi teringat betapa berbedanya bentuk tekanan yang dialami setiap orang. Aku sendiri berjuang melawan minder karena status sosial yang jauh di bawah, sementara Raditya berjuang melawan ekspektasi keluarga yang menuntutnya untuk segera berkeluarga tanpa mempedulikan kesiapan hatinya sendiri.

Aku menatap Raditya dengan perasaan yang campur aduk—antara simpati karena memahami tekanan yang ia rasakan, namun juga geram karena menyadari bahwa Kartika hampir saja dijadikan sekadar solusi praktis atas masalah pribadinya, bukan karena cinta yang tulus.

"Pak, kalau boleh saya bilang," ucapku pelan namun tegas, "Kartika bukan solusi buat masalah keluarga Bapak. Dia manusia yang punya perasaan sendiri. Kalau Bapak nikahin dia cuma buat nyenengin orang tua, itu enggak adil buat Kartika."

Lihat selengkapnya