Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membalas lewat pesan singkat. Beberapa hal terlalu penting untuk dijelaskan lewat rangkaian huruf di layar ponsel, apalagi menyangkut kepercayaan yang selama ini kami bangun bersama. Aku menelepon Kartika langsung, jantungku berdegup kencang menunggu sambungan tersambung.
"Halo, Mas?" suara Kartika terdengar dari seberang telepon, nadanya sulit ditebak—antara penasaran dan sedikit tegang.
"Neng, iya, tadi aku emang ketemu Pak Raditya," ucapku langsung, memutuskan untuk tidak berputar-putar dan menghadapi kenyataan dengan jujur. "Dia yang minta ketemu duluan. Aku sengaja enggak bilang ke kamu dulu karena enggak mau bikin kamu tambah khawatir."
Hening sejenak di seberang sana, membuat dadaku semakin berdebar menunggu reaksi Kartika. "Kenapa dia mau ketemu kamu, Mas? Ngomongin apa aja?"
Aku menghela napas, lalu mulai menceritakan seluruh percakapan yang terjadi di kedai kopi tadi—mulai dari tawaran kompensasi yang kutolak, hingga pengakuan Raditya tentang tekanan keluarganya yang membuatnya terburu-buru melamar. Kartika mendengarkan dengan saksama, sesekali terdengar helaan napas kecil dari seberang telepon.