Jam tujuh pagi. Genta bel sekolah berdentang lima kali, suaranya melengking nyaring hingga ke sudut terjauh lapangan. Anehnya, alih-alih sibuk gradak-gruduk di kelas masing-masing, penghuni SMA Cendekia tampak anteng hari ini. Lorong-lorong sekolah dipenuhi celotehan riang.
“Eh, udah bel masuk tuh kayaknya, Kak,” cicit seorang siswi imut berkuncir dua di balik deretan rak buku perpustakaan. Bibir mungilnya bergetar, tampak terbius oleh sosok rupawan di hadapannya.
“Hm?” Cowok yang dipanggil ‘Kakak’ itu hanya menggumam pelan sembari memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi. “Eh, ada nyamuk tuh di rambut kamu!”
Secepat kilat, tangannya bergerak seolah menggeplak serangga tak kasat mata, lalu jemarinya dengan lihai memainkan kunciran rambut gadis itu.
“Emangnya kenapa kalau udah bel? Kamu mau ikutan lomba makan kerupuk, di class meeting hari ini?” tanya Jovan pelan. Ia menahan tawa mati-matian melihat ekspresi adik kelasnya yang sudah tampak hampir pingsan.
SMA Cendekia baru saja menghelat Penilaian Akhir Semester. Hingga seminggu ke depan, anak-anak OSIS akan mengambil alih keadaan. Konon, pekan class meeting tahun ini akan berbeda karena mengusung tema Agustusan yang meriah.
“Ng-nggak kok, Kak. Sisy nggak ikutan lomba apapun,” balas gadis itu setengah berbisik sembari menggeleng cepat berkali-kali.
“Makanya kamu temenin aku aja di sini, cantik. Nanti kita belajar berdua, mau kan?” Rayuan itu meluncur begitu smooth, membuat Sisy megap-megap mau ambyar.
Padahal dalam hati, si cowok sedang membatin bingung. Siapa sih namanya barusan, gue lupa. Siti atau Tuti, ya?
Beberapa siswi yang kebetulan memergoki peristiwa itu tentu tak mau ketinggalan bahan gosip. Mereka mengendap-endap di balik rak buku, mencari spot pengintaian paling strategis.
“Sssst, itu tuh yang namanya Jovano Mahardika, panggilannya Jojo. Dia kakak kelas kita,” bisik salah satu dari mereka.