Senin pagi di bulan Juli tahun 2018 pukul 6:45, terasa spesial bagi Jovan. Sayangnya hal itu bukan karena ini hari pertama dia menjalani semester baru di sekolah. Oh bukan. Selera girangnya Jovan tidak sereceh itu.
Masalahnya, setelah dibuat pening selama liburan kemarin lantaran kepikiran request Mama, pada akhirnya Jovan pun memutuskan menjalani takdirnya dengan hati seluas samudera. Yah, mau bagaimana lagi. Apalagi Mama sudah menjelaskan alasan di balik permintaannya yang terkesan absurd itu, khususnya bagi Jovan pribadi.
“Jovan, kita hidup cuma sekali. Nggak akan bisa terbeli. Masa kamu tega menyia-nyiakan jatah umur yang wallahu alam mungkin berakhir entah besok, entah lusa ini?”
“Menyia-nyiakan gimana atuh, Ma?”
“Itu kelakuan kamu. Pecicilan banget, tahu. Tiap Minggu selalu bawa pulang cewek beda-beda. Tempo hari si Yuni terus Sisy, kemarennya Milly. Padahal si Tania masih hobi nelpon Mama tiap beberapa jam sekali buat nanyain keadaan kamu. Haduh, bingung Mama tuh jadinya pacar kamu yang mana!”
Jovan hanya terkekeh mendengar omelan Mama. Tangannya sibuk memetik dawai gitar, menggumamkan syair-syair ciptaannya sendiri. Ketika tiba-tiba saja Mama terbatuk keras, meraba dimana letak jantungnya berada. Napas beliau agak tersengal.
Karuan Jovan kaget.
“Eh, Mama. Kenapa Ma? Sesek lagi?!” tanya nya cemas. Gitar itu langsung digeletakkan di lantai. Tangannya spontan memijat pundak mamanya. Bayangan erangan kesakitan mama melintas di kepala. Bagaimana beliau muntah-muntah hebat nyaris setiap hari. Tanpa sadar bulu kuduknya meremang mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Mama mengulum senyuman.
“Sayang, besok Mama ulang tahun. Boleh nggak kalau Mama minta sesuatu sama kamu?” pinta Mama sekonyong-konyong. Nada beliau di-setting penuh permohonan, termasuk mimik mukanya.
Tak ayal Jovan melongo.
Kok tumben si Mama pakai ngeluarin jurus rayuan segala. Batinnya curiga.
Jovan berpikir sebentar, lalu ia mengangguk pasrah. Membuat Mama sumringah. “Beneran nih, Mama boleh minta apa aja dari kamu, Van?” ucap Mama memastikan. “Apapun, Ma,” ujar Jovan penasaran.
“Mama pingin”
“Ya?”
“Mama kepingin banget kamu jadi ikhwan, Van…”
Swear! Rasanya saat itu ada geledek nyasar entah darimana, tapi sepertinya numpang lewat melintasi rumah Jovan. Buktinya anak itu kaget berat. Glek! Jovan sampai menelan ludah. Mendadak loading mendengar kata-kata barusan.
“Hah? Apa, Ma? Ikhwan? Aku?” Rahang Jovan menganga lebar, ia bertanya seolah-olah tak percaya, sambil menunjuk hidungnya sendiri.
Mama mengangguk sebagai jawaban.
Dari sinilah drama hidup Jovan bermula. Bisa dibilang ia sampai kehilangan selera makan gara-gara ini. Kerjaannya guling-guling melulu di atas kasur. Sebab menurut Jovan, menjadi ikhwan berarti harus melepaskan diri dari godaan hawa nafsu dunia.
Itu sungguh berat, man! No ngeceng, apalagi pacaran. Dilarang centil apalagi modusin anak gadis orang. Harus selalu jaim, dan segudang pantangan lainnya. Walaaaah, bye-bye masa muda!
Betapapun nelangsanya Jovan saat mendengarkan permintaan Mama, dia tidak bisa menolaknya, apalagi kondisi kesehatan Mama tidak bisa dibilang baik. Beliau acapkali sakit-sakitan karena imunitas tubuh terus menurun setelah kemoterapi lima tahun lalu.
Tidak. Sesableng-sablengnya Jovan, dia tidak akan tega. Sayangnya, ibarat maju nabrak-mundur nyenggol, pilihan apapun yang bakal dia buat rasanya pahiiiit!
Gimana caranya mutusin gebetan-gebetan gue? Apalagi si Tania tuh yang doyan ngambekan. Padahal gitu-gitu juga kan lumayan dia mah sering neraktirin jajan!
Jovan jongkok di pojokan kamar, membiarkan air matanya berlinang.