Jovan berjalan pelan, ia sudah bisa move on sempurna dari insiden Tania beberapa saat lalu. Di sekelilingnya, tampak anak-anak SMA Cendekia berbagai tingkatan sudah mulai berdatangan memadati penjuru sekolah --yang gedungnya dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda dan termasuk dalam cagar budaya di Kota Bandung itu.
Berdiri di atas tanah seluas dua hektar dan terletak di pusat kota tidak lantas menjadikan suasana sekolah gersang, karena ditumbuhi pohon-pohon rimbun. Setelah melewati gedung utama yaitu aula, terdapat ruangan-ruangan kelas yang berbaris berbentuk persegi panjang dengan lapangan upacara cukup luas di tengahnya. Sedangkan gedung laboratorium, perpustakaan masjid, kantin dan ruangan ekstrakurikuler tersebar di area paling belakang deretan ruangan kelas.
“Eh, Neni, sehat kucing lu, Nen?” sapa Jovan begitu mendapati gadis berkuncir kuda sedang mematung sendirian di ambang pintu XI IPA 4. “Ngapain menyepi disini? Lagi nungguin tukang siomay lewat?” sambungnya sembari ngikut nangkring di samping gadis itu.
Sayangnya gadis yang ditanyai Jovan tetep cuek dan berlagak budek.
“Yaelah si Jojo dikacangin! Tancap terus, Jo! Gas pol! Gas!” seseorang berlogat Jawa kental terdengar menyeletuk di belakang Jovan.
Mendengar ledekan tersebut, Jovan mengacungkan satu jempolnya ke atas tanpa repot-repot menoleh ke arah suara. Lagipula sudah ngeh itu pasti ulah si Suryo Pakusadewo sang induk semang alias ketuakelas.
Beberapa anak cowok di dalam kelas tertawa-tawa. Doyan bener menyaksikan adegan Robeni versus Juliyem sedang musuhan begini.
“Ya ampuun ini kuciran apa air mancur, sih? Kok ngampul amat bentuknya,” Jovan terus usaha. Tuk. Tuk. Tuk. Sejurus kemudian tangannya sibuk mematuk-matuki kepala Neni.
“Udah wafat kucing gue mah. Puas lo? Terus ini ngapain lagi ah. Emangnya di kepala gue ada beras pake lu patukin?” tukas Neni sambil menepiskan tangan Jovan kasar. Semenjak kelas X dulu, Jojo memang sering banget ngisengin rambut panjang Neni. Kadang diacak-acakin, maksa ikutan ngepangin, pernah juga bantuin nyisirin. Untung cewek itu tabah jarang baperan anaknya. Coba kalau gadis lain?
Mendapat tanggapan dari Neni, Jovan cuma nyengir kuda. Makin sengak seseorang anehnya dia malah makin happy. Menurut analisanya pribadi nih, orang-orang semacam itu justru paling butuh penyegaran.
“Kalau id Line lu masih yang dulu apa udah ganti, Nen?”
Kalimat Jovan disambut derai tawa dan kericuhan teman-temannya. Mereka juga ikut-ikutan melontarkan ledekan.
“Deeeeeeuuuuu! Dasar cowok kardus!” ledek seorang siswa bernama Billy si anak basket. “Stok modus nya kapan habis, woy bejo!” Suryanto Pakusadewo kembali ikut nimbrung. Dia termasuk kecintaan anak-anak kelas lantaran royal banget menyantuni mereka semua dengan kiriman soto Jawa dari warung makan milik orang tuanya.
“Kenapa emang nanyain id gue? Mau ngajakin ngegosip? Udah deh sono minggir, Jo. Entar ketahuan permaisuri sama selir-selir elu, gue lagi yang diamukin!”sergah Neni judes, lanjut mendorong Jovan yang sedang ngakak supaya masuk ke dalam kelas.
Ya, selamat datang di keluarga keduanya Jovan! Kelas ter-nyablak seantero jurusan IPA di SMA Cendekia. Berbeda dengan kelas IPA lainnya, nyaris tidak akan dijumpai siswa berpenampilan nerd dan serba rapi di XI IPA 4 Squad. Banyak sekali siswa-siswi dengan visual diatas rata-rata yang berkumpul di sini. Ada kapten basket paling hits, mantan mojang-jajaka, sampai raja endorse pun ikut eksis.
“Lama-lama dosa lu nyepikin anak orang mulu, Jo!” sambung Neni setengah teriak.
Deg!
Di tengah perjalanan menuju bangkunya, Jovan seketika berhenti tertawa. Omongan Neni entah kenapa seolah meninju kembali ingatan Jovan akan misi yang diembannya.
Be an ikhwan. Lelaki yang taat menjalankan aturan Islam secara menyeluruh.
Biarpun Jovan bukan termasuk anak masjid aktif, tapi dia cukup tahu sepak terjang dunia keislaman itu seperti apa. Lihat saja temen-temen DKM-nya. Selain ogah pacaran, mereka cenderung anteng semua. Mana boleh petakilan kayak kelakuannya pada Neni barusan.
Ah, memikirkan ini Jovan jadi kehilangan semangat juang membayangkan betapa membosankannya masa depannya nanti. Namun syukurlah kemuramannya teralihkan sementara, karena beberapa menit kemudian geng-rusuh selanjutnya tiba.