Kalau Jovano diminta menyebutkan hal apa yang paling ia cintai di dunia ini, anak itu pasti akan segera menjawab “Musik!” tanpa ragu sedikitpun. Sebab baginya, musik itu separuh nafasnya. Yang kalau ia tinggalkan niscaya bakal megap-megap persis ikan kekurangan cairan. Hmph, berat…
Saking cintanya pada musik, gitar kesayangannya saja sengaja Jovan beri nama ala selebriti yang kece abis. Tarissa Putri. Gitar itu selalu diperlakukan bak permaisuri sejati.
Sang alat musik kesayangan tak pernah alpa diajak tidur di atas kasurnya setiap malam, senantiasa rutin di belai manja serta ditaruh sehati-hati mungkin dalam lemari kaca kalau Jovan sedang pergi bersekolah. Wah pokoknya VVIP banget deh penanganannya! Dulu saja Tania sampai jealous gara-gara merasa kalah saing sama si Tarissa Putri.
Kebetulan di malam yang sesunyi ini, Jovan sedang asyik memetik dawai-dawai Tarisa. Tak menggubris sama sekali bebunyian bip…bip…bip…yang terus menerus meneror kontak WA-nya.
Alah, palingan itu dari Milly, Sisy, Putri, Yuni atau si Tania kali? pikir Jovan.
Biarin deh. Si Jojo lagi males interaksi sama mereka semua. Dia masih kepikiran obrolannya dengan Mama sepulang sekolah tadi.
“Ma, aku janji bakal berubah lebih baik demi Mama, tapi perlu waktu. Ngga bisa sekaligus. Kalau besok aku pulangnya agak telat nggak apa-apa ya, Ma?” bujuk Jovan. Tampangnya dibuat sememelas mungkin mirip anak kelaparan demi mengais belas kasihan mama.
Habisnya bagaimana, bareng Rio dan Ikhsan, Jovan sudah membentuk grup band “The Jinx” dan setelah jungkir balik ngikutin berbagai festival, akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Salah satu juri merekomendasikan Jinx ke satu pemilik kafe di Dago buat jadi pengisi acara tetap setiap malam Minggu. Mereka jadi sering kongkow di tempat Rio buat latihan.
“Nnggggg,” Mama tampak berpikir keras, menimbang-nimbang baiknya bagaimana. Kalau diiya-in, takutnya si Jovan malah kebablasan nongkrong di luaran. Tapi kalau dilarang, kasihan juga.
Melihat ekspresi mama, Jovan jadi deg-degan.
“Please Ma, buat aku bermusik itu emm…apa ya,” Jovan sampai kehilangan kata-kata gimana mendeskripsikan perasaannya secara akurat. Jadinya dia cuma bisa menggaruk-garuk tengkuknya sambil mengeriutkan kening berpikir-pikir.
Mama menahan tawa melihatnya. “Ya udah deh, Mama ngerti ini berat buat kamu. Nggak apa-apa, slowly but sure aja. Insya Allah Mama dukung kamu terus.”
Yes! Jovan menarik napas lega. “Makasih Mamaku sayaang.”
“Tapi jadwal latihan nge band kamu dikurangin ya, Van?” Tak disangka mama malah balik mengajukan penawaran.
Eh? Bahu Jovan langsung turun. Kecewa.
Yah, Mama, lagi-lagi Jovan merasa hari-hari ke depannya akan terasa semakin menguji kesabarannya hingga ke tapal batas.
Selagi Jovan pusing sendiri di kamarnya, diam-diam mama mojok di ruang tamu,. Beliau bisik-bisik misterius dengan seseorang nun jauh tak kasat mata.
“Halo, Miska? Gimana si Al jadi nggak dititip disini? Udah kamu nggak usah kuatir. Tenang-tenang aja di Belanda sama Bram!”
***
“Al?”