“Jadi, alasan kalian putus tuh karena dilarang Mama, Jo? Kok bisa?” tanya Ikhsan sembari memandangi Jovan. Bias ketidakpercayaan membayang jelas di wajahnya.
Rio tak kalah serius menyimak penuturan sahabatnya itu.
“He-em… nggak cuma itu, gue juga dikasih batasan buat main di luaran. Cuma tiga kali seminggu doang nih jatah latihan kita,” jelas Jovan lagi. Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara bebas, membiarkannya pudar bersama angin malam.
Malam itu sudah terlalu larut untuk menggebuk drum atau memetik bass di studio pribadi milik Rio. Akhirnya, tiga sekawan itu memilih duduk lesehan di teras belakang. Mereka merokok bareng ditemani camilan porsi hajatan: kacang rebus, nasi padang, cake kunafe, spageti instan, hingga moccacino latte. Entah bagaimana perut mereka sanggup menampung kombinasi ajaib itu.
“Iya, tapi alasannya apa, Jo? Kok Mama lo mendadak overprotektif gitu? Beneran kan si Tania nggak positif?” Rio mengulang pertanyaan konyolnya yang sempat membuat Mister Saragih meradang di kelas.
PLAK!
Jovan langsung menjitak kepala Rio kuat-kuat. “Adaw!” Rio meringis, merasakan panas di ubun-ubunnya akibat tenaga kuda sang vokalis.
“Makanya punya bacot tuh dijaga. Gini-gini gue perjaka ting-ting asli, bukan sekadar dengkul! Emangnya lo, status suci cuma penghias kolom KTP doang!” oceh Jovan tak terima.
Rio dan Ikhsan malah ngakak berjamaah.
“Mama pengin gue janji supaya mau berubah jadi lebih baik. Itu aja,” tambah Jovan. Ia sengaja menyederhanakan keinginan ibunya. Toh, dua manusia di depannya ini belum tentu mengerti esensi ‘ikhwan’ itu apa. Nanti nge-bully iya, paham kagak. Kan percuma, pikir Jovan.
Keesokan harinya di kediaman Jovan.
Mama melongokkan kepalanya ke arah tangga sembari merapikan rambut keriting sebahunya. “Van, ayo turun, sarapan! Kamu udah bangun belum, sih? Udah hampir setengah tujuh, nih!”
Suara serak Jovan terdengar menyahut nyaring dari lantai dua. “Iyaaa! Ini juga mau turuun! Jangan kuatiiiiir!”
“Cepetaaaaan dooooong!” teriak Mama lagi, menangkupkan kedua tangan di depan mulut agar suaranya lebih menggelegar.
“Iyaaaaaaaaa, Maaaaamaaaaaa!” balas Jovan tak kalah keras.
Di meja makan, Ivanka dan Papa terbahak melihat aksi "Tarzan" ibu dan anak itu. Mereka sudah mulai menikmati porsi nasi goreng masing-masing. Selang beberapa menit, Jovan muncul dengan langkah gontai.