Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #6

Perang Dunia di Depan Perpustakaan

​Tania kehilangan semangat. Ia menyandarkan punggung di jok kulit Brio putihnya yang harum. Matanya mengerling jam digital di pergelangan tangan kiri. Sepuluh menit menuju pukul tujuh pagi. Tak seperti biasanya, ia hampir kesiangan. Biasanya, jam segini Tania sudah siaga mencegat Jojo di parkiran.

​Tapi sekarang... ah.

​Dua puluh empat jam, lima belas menit, dan dua puluh detik terakhir terasa bagaikan neraka bagi Tania. Semalaman ia tak bisa tidur, bahkan hampir lupa makan dan salat. Kepalanya terus memutar ulang kenangan bersama Jovan. Tangannya terasa gatal ingin meraih ponsel, menghubungi cowok itu atau mungkin Mamanya, seperti rutinitas yang ia lakukan selama ini.

​Tania tak bisa menampik rasa rindu pada sosok Jojo yang lucu. Jojo adalah tipe cowok yang mampu membuat siapa pun di sampingnya merasa nyaman dan terlindungi. Masih segar dalam ingatan Tania, setiap kali terjebak hujan, Jojo tak pernah lupa membentangkan jaketnya untuk melindungi Tania.

Agak drama, sih. Tapi cewek mana yang nggak bakal meleleh diperlakukan bak tuan putri begitu? batinnya pilu.

​“Nanti pulangnya jemput ya, Mang,” pesan Tania pada sopir keluarganya saat mobil itu berhenti di parkiran SMA Cendekia.

​Si Mamang berkumis baplang itu mengangguk patuh. “Siap, Neng.”

​“Kak!” Sisy tersengal kelelahan begitu tiba di samping Jovan. Meski napasnya memburu, wajahnya tetap ceria.

​Jovan tak tahan untuk tidak tersenyum. Pembawaan Sisy yang ceria selalu menjadi mood booster tersendiri baginya. “Kenapa, Sy? Habis diuber-uber Satpol PP ya?” tanya Jovan. Tangannya refleks merapikan rambut Sisy yang berantakan akibat berlari.

​Yah, namanya juga Jojo. Kebiasaan menggombal memang sulit dihilangkan begitu saja. Old habits die hard.

​Hati Sisy berbunga-bunga. Ia meninju pelan lengan Jovan dengan gemas. “Ih Kakak, bukan gitu! Aku mau kasih tahu sesuatu. Sini deh, Kak. Rahasia, lho.”

​Sisy berjinjit, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Jovan. “Pst…. sst….”

​“Oh… iya iya…,” Jovan mengangguk-angguk dengan mulut membentuk huruf O. Sebenarnya ia merasa agak geli.

​“Apa coba, Kak?” pancing Sisy.

​“Kamu bilang Wo Ai Ni?” ceplos Jovan percaya diri.

​Sisy makin gemas. “Iiiiih, bukan! Kepedean banget sih!” Ia kembali memukuli lengan Jovan sementara cowok itu tertawa terbahak-bahak.

​Tepat saat itu, Tania melintas di lorong kelas menuju musala. Matanya membelalak menyaksikan pemandangan "ajaib" di depannya.

Lihat selengkapnya