Di ruang BP yang sunyi, Jovan diberikan kesempatan berbicara enam mata dengan orang tuanya sebelum menandatangani berkas skors. Tania dan Sisy sudah pulang lebih dulu bersama orang tua masing-masing, meninggalkan atmosfer yang masih terasa "panas".
“Intinya aku mutusin Tania kemarin, terus nggak tahu kenapa dia malah marah-marah waktu mergokin aku sama Sisy ngobrol,” jelas Jovan, mengakhiri pembelaannya di depan Mama dan Papa.
Satu jam yang lalu, Mama hampir pingsan saat ditelepon Pak Gunadi. Pikirannya sudah melantur liar. Ia mengira Jovan terlibat tawuran atau tertangkap membawa barang terlarang lagi seperti saat kelas X dulu. Namun, kenyataannya jauh lebih memalukan bagi Mama; anak bungsunya menjadi rebutan dua gadis hingga membuat sekolah geger.
“Lha wong punya bakat tuh di bidang akademik gitu loh, Van. Bukannya jadi biang kerok berantemnya anak gadis orang. Sok Ngarjuna pencari cinta banget ih kesannya,” bisik Mama pasrah.
“Jovan… Jovan…, kamu mah ada-ada aja. Makanya lain kali jangan terlalu centil,” sahut Papa lirih dengan wajah merah padam.
Berbaring di kamar ditemani sang permaisuri, Tarissa Putri, Jovan menyapu layar ponselnya.
“Jadi kayak gini ya rasanya jadi selebgram?” gumam Jovan sinis. Media sosialnya dibanjiri postingan teman-temannya tentang kejadian monumental di depan perpustakaan tadi pagi. Trio Jovan, Tania, dan Sisy mendadak viral.
“Ckckck, nggak nyangka cewek secakep Tania dan seimut Sisy bisa gahar juga kalau berantem. Tapi yang paling kelihatan konyol ya gue,” komentarnya sembari terpingkal tipis, mengingat betapa kelabakannya ia menghalau tangan-tangan yang menjambak itu.
Namun, segimanapun Jovan berusaha melucu, bayangan wajah orang tua Sisy dan Tania yang kecewa tetap membekas. Terutama Mama Tania, yang selama ini begitu mendukung hubungannya. Apa bener gue sebobrok itu jadi orang? Setitik perasaan bersalah merasuki sanubarinya.