“Gimana? Diangkat nggak?” Rio memandangi Ikhsan dengan penuh tanya di sela pergantian jam pelajaran kedua. Di hadapannya, Ikhsan masih bergeming, menempelkan ponsel di telinga dengan ekspresi tegang yang membuat Rio makin penasaran.
Setelah sunyi beberapa lama, Ikhsan menggeleng dan menurunkan ponselnya. “Tau tuh anak. Semenjak skorsing kayak lenyap ditelan bumi. WhatsApp nggak pernah dibuka, telepon nggak diangkat. Medsosnya apalagi,” ujarnya tak paham.
“Kemana ya si Jojo? Apa kita samperin aja ke rumahnya nanti? Soalnya festivalnya bentar lagi mau mulai, sayang banget kalau nunda terus latihan,” usul Rio.
Ikhsan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Oke deh.”
Rumah modern minimalis di Kompleks Artha Regency No. 74 itu tampak adem ayem. Halamannya asri dengan taman hias mini dan kolam ikan kecil yang memisahkan teras depan dengan ruang tamu. Benar-benar hunian yang nyaman.
Siang itu, suasana kompleks terbilang sepi karena mayoritas penghuninya sibuk beraktivitas di luar. Tak terkecuali keluarga Jovan. Papa di kantor, Ivanka kuliah, Al sekolah, dan Mama sedang jadwal "ngeksis" bareng skuad arisannya sekalian promosi bisnis MLM.
Yes! Gue bebas! pekik Jovan dalam hati.
Sebagai satu-satunya "pengangguran" di rumah, Jovan girang bukan main. Di rumah hanya ada Bi Siti yang sudah sepuh—tipe orang yang tak akan mengkhotbahinya dan cukup dikasih remote TV agar anteng.
“Van, Mama beredar dulu. Kamu diem aja di rumah jangan keluyuran. Kalau lapar, Mama tadi udah masak semur jengkol favorit kamu tuh di meja makan,” pesan Mama sembari melongok ke kamar Jovan. Anak itu sedang duduk bersila di atas karpet, asyik memainkan stik PS4.
“Joovaan, denger nggak apa yang Mama bilang?” ulang Mama sekali lagi dari ambang pintu, tangannya berkacak pinggang gemas melihat si bungsu belagak budek.
Terpaksa Jovan mem-pause permainannya. Ia menoleh dengan cengiran super lebar yang sengaja dibuat sok kece. “Iya, Mama-ku tersayang. Jangan khawatir, anak Mama paling cakep ini nggak bakal ada yang nyulik, kok.”
Mama tampak puas, lalu mendekat untuk menghadiahi kecupan di kening bungsunya. Muah! Biarpun Jovan sudah tinggi menjulang dan mulai jenggotan, di mata Mama dia tetaplah bayi kesayangannya. Jovan hanya bisa meringis rikuh diperlakukan begitu.