Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #11

Nego

Di kamar, dengan hanya mengandalkan cahaya ponselnya, Jovan membereskan bungkus snack, bekas puntung rokok dan botol-botol plastik minuman soda yang berceceran di lantai. Sampah-sampah itu diraupnya sekaligus, lalu dimasukkan ke dalam kantong kresek hitam. Jovan tahu sebentar lagi Mama dan anggota keluarganya yang lain akan segera pulang. Lewat sudut matanya, dia tahu Al sudah datang.

Hmph, Jovan mendengus kasar.

“Jojo,” Al menyapa, sikapnya setenang telaga, padahal dalam hati sedang mati-matian menahan tawa. Ia meletakkan tas di bawah meja belajar, lalu mengarahkan senter dari ponselnya ke arah lemari pakaian, bermaksud mengganti seragamnya.

Jovan memasang sikap cuek. Diam-diam ngedumel kesal.

“Siap-siap shalat berjamaah di masjid, Jo! Selain pahalanya lebih banyak, dan didoakan malaikat, pemuda yang hatinya terikat dengan masjid akan dapat perlindungan saat kiamat kelak. ” Al meneruskan omongannya biarpun tak ditanggapi. Dilepaskannya seragam untuk ditukar dengan setelan baju koko dan sarung.

Jovan bergeming. Sekuat mungkin menahan amarah meski tak 100 % berhasil. Mulutnya nampak terkunci rapat, menelan sumpah serapah. Kresek hitam berisi sampah itu lalu dilemparkan asal-asalan ke tempat sampah plastik di sudut kamar.

“Habis itu kita tadarusan disana sekalian nunggu isya, karena amalan yang paling dicintai Alloh adalah sholat pada waktunya,” tambah Al maju terus pantang mundur.

Grrrrgrh, Jovan makin merasa sengak. Dia paling nggak suka diatur-atur orang lain, terutama oleh si anak songong satu ini.

Bukan tanpa dasar Jovan menyabarkan diri menghadapi ulah Al. Dia hanya ingin meluluhkan hati Mama. Maka masih tanpa banyak bicara, Jovan mengikuti apa yang dilakukan Al, segera mengenakan baju koko hitam dan celana jeans belelnya yang biasa.

Setelah beres mengancingkan koko nya, Al melirik Jovan. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia ingin tertawa. Kok tumben-tumbennya si Jojo berubah penurut banget, nggak pake acara ngajakin berantem dulu kayak Tom and Jerry. Alhamdulillah ya Rabb, mudah-mudahan jadi awal yang baik kedepannya.

“Yuk Van, kita berangkat sekarang. Bentar lagi adzan magrib,” ajak Al, mengulum senyuman seraya mendahului Jovan turun ke lantai bawah. Anak itu lagi-lagi menurut tanpa melancarkan protes.

Melintasi ruang tamu dan TV, suasana di sana lumayan terang karena dipasangi lampu emergency yang otomatis menyala bila gelap. Sesampainya di ambang pintu keluar, Jovan merasa curiga melihat bi Siti. Wanita separuh baya yang masih nampak bugar itu sedang duduk manis di sofa ruang tamu sendirian gelap-gelapan, menutupi mulutnya pakai tangan. Ekspresinya janggal.

Kenapa bi Siti kok kayaknya geli banget lihat gue dan Al lewat?Apa kagak pantes ya gue pake koko beginian? pikir Jovan rikuh.

Bersamaan dengan melangkahnya Jovan keluar pagar, mobil Mama dan Papa tiba dari belokan, kemudian berhenti persis di dekat Jovan yang spontan berhenti di tempat. Cowok itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

Lihat selengkapnya