Air mata Mama Jovan mengalir, wanita setengah baya itu menyapukan kedua tangan ke seluruh wajah. Isakannya teredam mukena putih yang sedang dikenakannya. Sekitar satu jam sebelum salat subuh, Mama terbangun. Wanita itu salat tahajud. Memohon ampunan atas segala kesalahan, sekaligus mengadukan semua keinginannya.
Tanpa pernah mengeluh pada siapapun, akhir-akhir ini Mama sering merasa jantungnya berdetak lebih cepat di luar normal. Nafasnya menyesak. Paska kemoterapi lima tahun lalu, kondisi Mama memang tidak dapat dikatakan benar-benar fit. Adakalanya fisik beliau melemas, pusing dan merasakan nyeri menghebat di bagian dada, tempat dimana payudara kiri nya terpaksa diangkat karena digerogoti kanker stadium tiga.
“Hidup dan matiku sepenuhnya adalah milikMu, ya Rabbi. Mudahkanlah hamba membimbing putra-putri hamba, ya Allah. Lindungi mereka, tetapkan di jalanMu. Hamba ikhlaskan dan titipkan putra-putri hamba padaMu, ya Rabb,” Mama terus melantunkan doa dan pengharapan. Luruh dalam sujud panjangnya.
Hingga beberapa jenak menjelang sholat subuh, Mama mendengar bunyi pintu kamar Jovan terbuka pelan.
“Pasti itu Al. Mama doain kamu jadi anak sholeh ya, Jovan. Kayak Al,”gumam Mama sepenuh hati. Meskipun matanya masih membasah, bibirnya mengukirkan senyuman.
Lalu brak! Terdengar pintu kamar Jovan menjeblak keras kali ini. Disusul suara grabak-grubuk langkah kasar Jovan yang sedang bersungut-sungut mengikuti Capella Aldebaran turun ke lantai bawah.
“Heh, Accapella! Nggak bisa ya elu bangunin gue pake cara yang wajar-wajar aja! Mau tanggung jawab lu kalo gue sampe masuk angin lantaran elu siramin mulu! Ke masjid sih ke masjid, tapi biasa aja kali. Dasar tetelan kambing lu ya, doyan amat bikin rusuh hidup orang!” Omelan panjang lebar Jovan terdengar membahana ke seluruh rumah.
Aduh, Mama meringis sekaligus pingin ketawa membayangkannya. Yang tabah ya, Al…
***
Setengah mengendap-endap, Tania menyembunyikan tubuhnya di balik pohon. Rambut panjang ikalnya sudah dikepang dua, benar-benar diluar gayanya yang biasa. Biarin ah disangkain cupu juga, Tania nggak peduli, asalkan dia nggak ketahuan. Gadis itu bahkan menutupi wajahnya pakai masker bermotif panda. Sepasang mata indahnya dipicingkan tajam, mengamati satu sosok yang tengah berjalan santai beberapa langkah di depannya.