Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #13

The Secret of Al

“Jovan ih, balikin nggak!”Ivanka berseru kencang.

“Apaan, makanan kayak ampas tahu gini lu beli, Kak!” Jojo membalas santai.

“Biarin, balikin sini!”Ivanka menolak kalah.

“Aduuuuh, udah ah. Malu tahu sama Al, ribut melulu,” Tante Riana ikut nimbrung. Berusaha melerai pertikaian anak-anaknya.

“Ah, Mama, kenapa sih si tetelan kambing satu itu mesti disebut melulu? Gak seru!” Jojo memprotes.

“Jovaaan, ngomongnya yang sopan atuh, Sayang, ” suara tante Riana terdengar letih. Mungkin karena si Jojo susah banget di kasih tahu. Selalu bertindak seenak udelnya sendiri.

Sembari duduk di atas karpet berbulu cokelat, menyelingi rutinitas belajarnya, Capella Aldebaran tersenyum-senyum saat mendengarkan semua ocehan di lantai bawah melalui pintu kamar Jovan yang dibiarkan terbuka. Semenjak hampir dua minggu lalu, dari hari pertama menginap di rumah tante Riana, keramaian semacam ini sudah biasa dia dengar. 

“Jovaaaaaaaan! Awas, ya!” pekikan keras Ivanka kembali membelah suasana sore itu. Disusul cekakakan Jovan yang menghambur kabur ke garasi. Suaranya bergaung.

 “Aku latihan ke tempat Rio dulu, Ma! Besok ada jadwal manggung!” teriak Jovan lantang.

“Iya! Pulangnya jangan kemaleman!” Tergesa, tante Riana memperingatkan sebelum Jovan keburu menggeber N Max nya keluar garasi.

“Jovan, Jovan, kapan kalemnya tuh anak ya? Coba kayak Al gitu loh. Sholeh, juara umum,cerdas, aktif di sekolah. Dia mah tipikal anak kebanggaan semua ibu deh pokoknya,” keluhan samar terucap dari tante Riana, sedikit dipelankan supaya tidak kedengaran Al. 

Nyatanya, Al tetap bisa mendengar ucapan Mama Jovan. Hatinya sedikit terusik, dan memudarkan senyum di wajahnya.

Ivanka yang mendengarkan ucapan mamanya, tergelak-gelak. “Ma, tolong dikondisikan lagi harapannya, jangan terlalu ketinggian. Kalau si Jovan berubah kalem malah aneh kayaknya. Gak pantes!”

Tawa renyah tante Riana lalu meledak, membenarkan celetukan si sulung. 

Al membereskan buku-buku pelajaran yang bertebaran menjadi satu kumpulan sembari merapatkan bibir. Hilang sudah minatnya untuk belajar. Pujian tante Riana padanya telah memukul telak ulu hatinya. Mengingatkan luka yang telah bercokol lama. 

 “Tante, seandainya tante tahu aku nggak sesempurna itu, “ gumamnya lirih.

***

“Udah tenang. Al sama Mama nya lagi keluar dulu, kok. Kalau nge mall, mereka selalu pulang agak sorean.”

“Tapi, Mas. Aku takut…nanti kalau tiba-tiba mereka pulang cepet gimana?”

Lihat selengkapnya