Sebuah boardmarker mendarat empuk di kepala Jovan yang sedang terpejam. Di sebelahnya, Rio refleks berkelit ke samping karena takut jadi korban salah sasaran timpukan Pak Gunadi. Mana beliau kelihatannya melemparkannya sekuat tenaga. Kan lumayan tuh kalau kena.
Herannya, jangankan terbangun, si Jovan terusik pun tidak. Bisa-bisanya tetap kelihatan nyaman padahal posisi tidurnya nggak recommended alias nyender ke tembok.
“Ya Allah, si Jovan koma atau mati suri? Kok kebluk amat,” Pak Gunadi tercengang. Wajar beliau tersinggung. Sudah susah-susah menjelaskan materi PKN, eh masih ada aja siswa yang nekat ketiduran. Pakai acara mendengkur segala lagi.
“Jovaaaan!” panggil pak Gunadi lebih keras sambil beranjak mendekat. Sebatang penggaris papan tulis dibawa di tangannya.
Melihat raut muka pak Gunadi yang berubah keruh, mau tak mau Rio kebawa tegang. Sudah rahasia umum kalau beliau sudah membawa senjata andalannya itu, minimal bagian pantat yang bakal kena geplak sebagai bentuk hukuman.
Menahan perasaan ngeri, setengah kelabakan Rio menyepak-nyepak betis si Jojo dari bawah meja, berharap anak itu cepat siuman. “Ssst, Jojo, bangun dong, Jo! Pak Gunadi ngamuk,” bisik Rio, sebisa mungkin tak menggerakan mulutnya macam ventriloquist. Tapi berhubung nggak ahli, kelakuan Rio bukannya mirip pelaku seni suara perut malah kedengaran kayak orang kumur-kumur. Lawak banget. Tak heran beberapa siswa di di depan dan belakang meja nya kepaksa harus menyumpal mulut meredam tawa.
Pak Gunadi sudah semakin mendekati bangku Jovan dan Rio duduk. Rio tak punya pilihan lain selain menginjak kaki Jovan sekuat tenaga. Otomatis vokalis The Jinx itu pun gelagapan membuka mata, spontan berteriak teriakan ala-ala Metalica.
“Wadaaaaaaaw!”
“Eh!” Rio terlonjak kaget mendengarnya. Pak Gunadi apalagi.
***
“SP lagi! SP lagi! Udah banyak nih kayaknya koleksian gue kalau dikumpulin,” keluh Jovan muram. Ia memasukkan surat peringatan ke dalam sakunya saat istirahat di kantin. Barusan, dia habis diwejangi materi tata kedisiplinan siswa oleh guru BP mereka.
“Lagian elu. Udah tahu pak Gunadi killer nya kayak apa, masih berani-beraninya ketiduran. Kelebihan nyali,” tukas Ikhsan mendengus geli sementara Rio menggelengkan kepalanya.
Jovan mengangkat bahu dengan cuek. Tangannya mencomot bakwan di piring Rio. Dilahapnya banyak-banyak sekalian dengan cabe merah demi mengusir rasa ngantuk.
“Kalau bukan gara-gara si Acapella, gue nggak bakalan sengantuk ini, “ungkap Jovan jujur di luar kemauannya. Sepasang alis tebalnya mengerut karena kepikiran peristiwa semalam. Belum pernah ia melihat Al terbangun dengan raut wajah paling mengenaskan dari yang pernah diingatnya. Campuran dari ketakutan dan rasa tidak berdaya.
Hmm, ada apa ya? Jovan merasa penasaran.
Rio dan Ikhsan sengaja mencondongkan badannya kedepan. “Emangnya si Al ngapain? Ngajakin lu tahajud bareng?”tebak Rio separo benar.
Kemarin, Al memang langsung menunaikan salat tahajud begitu terbangun. Anehnya, ia nggak ngajakin Jovan. Tampaknya si Al sedang punya masalah, yang jelas sholatnya khusyuk banget dilanjut ngaji sampai subuh menjelang. Jovan yang tadinya menyangka akan bisa tidur nyenyak selepas capek latihan ternyata malah jadi mendengarkan bacaan Qur’an. Bukan hanya itu saja, sayup-sayup didengarnya juga Al menangis! Aneh!