Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #15

Backstreet

Rio mendehem, sebagian karena kepingin becandain Jovan, sebagiannya lagi sebagai isyarat buat si akang barista kalau dia tengah dehidrasi akut. “Udah sana buruan samperin, kasian cewek lo kelamaan nunggu!“saran Ikhsan nyengir. Ia mendorong pelan punggung Jovan. Anak itu kelihatan agak bingung. Lebih tepatnya, dia sedang menyiapkan mental. Kode keras Tania lewat pilihan lagu-lagu nya kentara banget soalnya, seperti ingin ngajak balikan.

Kang Heru menepuk pelan lengan Rio karena dia harus mengontrol bagian lain. “Gue tinggal dulu. Santai ajalah nggak usah buru-buru pulang. Oya, selamat menunaikan fan service ya, Jo!“ candanya sambil menepuk-nepuk bahuJojo.

Tanpa banyak omong, si akang barista meletakkan tiga gelas es lemon berukuran jumbo diatas meja nya. Ia sudah hafal betul selera anak-anak tengil di depannya ini. Kalau nggak es lemon pasti jus stroberi topping whipped cream. Kalau makanannya sih si akang ngga ngerti, karena request mereka selalu berubah-ubah.

Ikhsan mendahului mengambil jatah es lemonnya. 

“Ya udah gue ke si Tania dulu!”sahut Jovan mengambil jatahnya dan punya Rio sekalian untuk dibawa ke meja si gadis.

“Eh, eh, itu punya gue, Jo! Yeuh, si kampret !” Rutuk Rio kecele.

***

Tania sedang memainkan sedotan blueberry milky sodanya yang tinggal seperempat, memandangi panggung setengah melamun. Di atas meja sudah terdapat tiga bungkusan besar orderan berisi spicy chicken dan menu kafe lainnya juga. 

Jovan berdecak pelan melihat semua bungkusan itu. Segitunya Tania. Tanpa menunggu dipersilahkan, ia langsung mengambil posisi duduk di depan si mantan, bikin cewek itu terkesiap.

“Tan, kamu sama siapa ke sininya? Sendiri?” sapa Jovan berbasa-basi, sambil meletakan dua gelas es lemonnya di meja. Satu untuknya dan yang satunya lagi diulurkan ke hadapan Tania.

Gadis itu hanya mengangguk, agak malu-malu menatap Jovan. Situasinya entah mengapa jadi berubah sedikit canggung. 

Jovan memanfaatkan kesunyian itu untuk menyeruput minumannya sendiri. Sengaja ingin memberikan kesempatan buat Tania untuk ngeluarin unek-unek atau apapun namanya itu.

“Jo,” Tania memulai ragu-ragu.

“Hm?” Jovan meletakan gelasnya kembali. Kali ini ia memusatkan 100% perhatiannya.

Tania menarik napas dalam-dalam. Terus menerus menguatkan diri nya, mumpung ada kesempatan emas di depan mata, lebih baik maju terus.

“Balikan yuk, Jo .Aku nggak peduli kalau hubungan kita harus backstreet, misalnya, yang penting aku tetap bisa hubungin kamu, bisa jalan lagi sama kamu kayak dulu.“

Tuh, bener kan! Jovan mengeluh dalam hati, sedikit memalingkan wajah ke arah lain. Dia suka pusing kalau dihadapkan pada kasus macam ini. Urusan cinta-cintaan tak pernah jadi prioritas buat Jovan tapi sebetulnya dia tuh paling nggak tega kalau harus menolak permohonan cewek. 

Melihat gelagat dilematis cowok di depannya, Tania semakin gencar. Diambilnya sebelah tangan Jojo lalu digenggam erat-erat.

Rio dan Ikhsan yang mengamati kelakuan sejoli tersebut dari meja barista di kejauhan sibuk berciyee-ciyeee di tempat. Mereka iseng menebak kira-kira si Jojo bakal jadian lagi atau nggak.

“Eh, “ gumam Jovan terperangah. Ia bertambah bingung kalau udah diagresifin kayak gini. Ah, dasar Tania nih! Bagaimanapun dia sudah terikat janji pada Mama.

“Tan, sori banget tapi aku nggak bisa! Kan udah dibilang, Mama ngelarang aku pacaran.” jawab Jovan menampilkan mimik muka simpatik. 

Raut wajah Tania berubah sendu. Gadis itu melepaskan tangan Jovan dengan perlahan, membuatnya didera perasaan bersalah. Selama beberapa menit selanjutnya mereka hanya terdiam.

“Udah malem banget, Tan! Si Mamang nunggu kamu di parkiran?” tanya Jovan memecah kebisuan. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Dulu, biasanya Tania selalu diantar jemput sopirnya kemana-mana kalau kebetulan Jovan berhalangan menemani.

Lihat selengkapnya