Ceritanya, Jovan batal pulang sendirian ke rumahnya.
“Jo, masa kamu mau pulang jalan kaki? Biar aku sama Mamang anterin aja ya sampai depan rumah?” Tania menyarankan tepat sebelum Jovan keluar dari mobilnya.
Oh, iya juga. Tengah malam begini mana ada angkot Cicaheum-Ciwastra yang lewat…, pikir Jovan.
“Ok, makasih, Tan.” Jovan setuju.
Terpaksa si Mamang harus menelan kuapnya berkali-kali, mengarahkan kemudinya ke arah rumah Jovan di wilayah Margacinta, padahal beliau sudah sangat mengantuk. Perutnya kekenyangan makan masakan padang.
Di bangku belakang Brio itu, Tania dan Jovan saling bungkam. Mereka kehabisan bahan pembicaraan tapi dari jemari mereka yang terus bertautan sepanjang jalan seolah mengirimkan sinyal-sinyal lain bagi hubungan mereka ke depannya, meski tanpa kata. Tania yang berinisiatif menggenggam tangan cowok Jovan, dan dia Jovan membiarkan. Tau deh ah, cowok itu bingung! Kenapa bisa jadi serumit ini ya?
“Jo, tolong pikirin kata-kata aku yang tadi ya?” Tania mengingatkan, sebelum Jovan membuka pintu mobilnya. Mereka sudah tiba di depan Artha Regency no 74.
Jovan hanya mengulum senyuman dan mengangguk. Sengaja, biar cepet.
“Eh tunggu Jo!” Mendadak Tania mencekal lengan Jovan bikin cowok itu mengangkat dua alisnya sebagai bentuk tanya. Oh, ternyata Tania menjejalkan dua bungkus kresek besar makanan dari kafé Blink padanya.
“Makan yang banyak ya, Jo…Biar kamu sehat terus. ” kata Tania tulus. Selangit benar perhatiannya.
Lagi-lagi, Jovan dibuat terbungkam dihujani kebaikan Tania. Dalam hati serabutan berharap semoga aja dia gak seperti batu yang lama-lama akan meleleh oleh gerusan hujan.
Mobil berwarna putih itu bergerak, tepat ketika pintu ruang tamu Jovan membuka. Nampak Mama keluar dan menyambut puteranya yang sedang mengunci kembali gembok pagar. Sepintas, beliau sempat melongokkan kepala melihat berlalunya mobil Tania. Senyumnya lalu terkembang.
“Barusan dianterin Rio?” tanya Mama tanpa curiga. Jovan jadi kaget.
“Loh, kok Mama belum tidur?”
“Iya, kepingin nunggu bujang paling gantengnya Mama pulang dulu,” balas mama, suaranya terdengar lega. Kedua tangannya terangkat menyentuh pipi Jovan, mengamati wajahnya lekat, kondisi anak itu nampak sedikit lelah tapi tidak kuyu. Diendusnya aroma tubuh Jovan. Hmm…Tidak ada bau alkohol. Alhamdulillah.
Jovan yang memahami maksud dibalik perlakuan mamanya, terkekeh kecil. Mama tidak pernah berubah. Selalu tak pernah absen menguatirkannya. Kalau ada wanita yang paling dicintainya dalam hidup, beliaulah orangnya. Tanpa aba-aba, dikecupnya kening sang Mama hangat.
***
Al mengamati Jovan sekilas. Sudah rapi dan wangi mengenakan koko dan kain sarungnya. Kasihan, pasti si Jojo cape banget sampai mangap begitu mulutnya.