Agak gontai, Capella Aldebaran berjalan menuju ruang guru, bermaksud mengambilkan buku agenda siswa milik Mister Saragih yang tertinggal. Bukan tanpa sebab Al kehilangan mood sepagian ini. Dia masih shock. Kenyataan bahwa Jovan mengetahui rahasia terbesarnya, telah menohok ulu hatinya.
Dari mana Jojo bisa tahu? Al terus mengulang pertanyaan yang sama dalam benaknya.
Selain itu, muka Jojo yang demikian meremehkannya sewaktu melontarkan kata-kata itu, membuat pertahanannya anjlok!
Jojo benar, gue ribet. Sok-sok an ngurusin orang lain padahal diri sendiri pun masih awut-awutan. Kelam! Gue munafik! Al mengomeli dirinya sendiri.
“Ayo, terusin Jo, yang semangat! Kamu juga Irfan, Opik, Riki!” suara bass pak Gunadi terdengar di pos keamanan dekat gerbang, beberapa meter sebelum ruang guru.
Al menoleh, melihat Jovan serta beberapa siswa lainnya sedang duduk di bangku panjang di dalam pos. Mereka menjalani konsekuensi kesiangannya dengan mengaji Al Qur’an sebanyak satu juz sesuai peraturan SMA Cendekia. Pak Gunadi mengawasi mereka dari bangku terpisah. Diantara lantunan ayat-ayat Qur’an teman-temannya itu, Al menangkap bacaan Jovan paling terbata-bata.
Entah kenapa seberkas rasa iba merayapi hati Al. Hati kecilnya mengatakan Jovan tidak pernah berniat nakal apalagi jahat. Rasanya ingin sekali dia memandu anak itu, bersama-sama memperbaiki diri di jalan kebaikan. Sayangnya Al tidak tahu apakah dia pantas?
Tiba-tiba Al menyapu wajah menggunakan telapak tangannya. Melantunkan istigfar berkali-kali. Bagaimanapun keadaannya, ia tetap harus melaksanakan amanat tante Riana. Meskipun ia seorang pendosa.
Satu setengah jam kemudian, Jovan ngibrit secepatnya ke kelas. Semoga masih sempat mengejar kelas Pak Saragih! Dia baru saja selesai mengaji seperempatnya dari surat Ali Imran. Itupun sudah didiskon Pak Gunadi mengingat cuma dia doang yang paling keteteran. Bisa-bisa sekolah sudah bubaran, si Jovan baru selesai mengkhatamkan satu juz.
Tak lama, bel perpindahan pelajaran berdentang.
Para guru keluar dari kelasnya masing-masing, menuju kelas berikutnya. Untuk kedua kalinya, Al berjalan menuju ruang guru, membantu pak Gunadi membawakan buku-buku latihan siswa. Dan di tengah lapangan, Al melihat Jovan sedang berlarian keliling lapangan bersama Ikhsan dan Rio, konco-konconya.Rupanya mereka diganjar hukuman Pak Saragih karena kemarin lupa tak mengerjakan PR. Habisnya terlalu konsen menyiapkan performance sih!
Bibir Al langsung mengulum senyuman. Jojo. Jojo. Sekolah kayaknya bakalan sepi tanpa kamu, Jo!
***
“Kenapa gue sial melulu ya? Apa kurang sedekah?” Jovan menyeruput teh botolnya di meja kantin nomor 4 saat istirahat. Rambutnya agak klimis terbasahi oleh keringat. Kulitnya yang ala-ala Asia Timur itu agak memerah.
Tampilan Ikhsan dan Rio hampir sama kucelnya. Mereka lari 30 kali mengelilingi lapangan,kan lumayan menguras tenaga. Ditambah lagi matahari pagi yang gahar banget tanpa sedikitpun payungan awan-awan. Wuah, komplit deh!
“Ya kali, Jo. Kalau lu mau sedekahin uang jajan lu ke kita, ngga apa-apa kok. Kita mah bahagia.” sahut Rio serius, menjulurkan telapak tangannya ke depan Jovan persis peminta-minta. Namun si Jojo balas menggeplak tangannya kenceng-kenceng.
“Lu mah emang dasarnya fakir kuota, dodol!” makinya.
Rio dan Ikhsan ngakak. Trio tengil itu lanjut melahap gorengan yang tersedia ketika Suryo Pakusadewo celingukan menghampiri mereka.
“Sst, sudah denger gosip terbaru belum, kalian?” bisiknya dengan logat Jawa yang kental.
“Ya kali, kita fansnya lambe turah,“ tukas Rio cuek. Dia memang kurang suka melibatkan diri dalam acara infotainment macam itu. Kurang macho, katanya!
Suryo menggoyangkan dua tangannya.
“Eh, bukan gosip artis! Ini tentang Billy, kemarin dia ditahan di ruang BP karena… “ Cowok itu kian memelankan suara. Mendadak ragu-ragu dan mengecek keadaan sekitar lebih dulu, memastikan tak ada yang menguping.
“Wah, ada apa sama dia? Kayaknya seru tuh disimak!” bisik Ikhsan.