N Max hitam Jovan terguling ke tanah karena pemiliknya keburu konsen melarutkan diri dalam kehebohan di dekatnya. Bodo amatlah, boro-boro sempat mikirin standar!
Al nampak megap-megap karena lehernya didekap dari belakang. Perut dan tubuhnya yang lain tak luput dari sasaran bulan-bulanan. Dipukul dan ditendang berulang-ulang.
Jovan benar-benar murka melihatnya. Cara mereka sangat kacangan!
“Cuih! Dasar banci lo pada, beraninya main keroyokan!” sungut Jovan pasang kuda-kuda, siap melancarkan serangan.
Dug! Ditendangnya bokong salah satu dari cowok urakan itu hingga terpelanting. Kepalan tangan Jovan lanjut menyasar pelipis cowok yang sedang leluasa menghantam perut Al. Dug!
“Aw!” Cowok itu mengaduh, sedikit oleng.
Tubuh Al sudah terlalu lemas, ia terjengkang ke belakang dan secara tak langsung menimpa cowok yang menyanderanya. Brilian juga cara jatuhnya.
“Sukurin! Emang enak ketimpa anak gajah!” Jovan meledek pada si cowok yang tertimpa tubuh Al. Kebetulan wakil ketua OSIS satu itu memang punya tubuh agak gempal.
Di saat genting itu, Jovan menelaah medan. Anak-anak DRFKing ini tubuhnya meski kerempeng tapi lumayan gahar. Mata mereka aja memerah, yang berarti kemungkinannya cuma tiga. Kalau ngga mabuk ya korban begadang atau kena demam. Tapi lebih baik dia tak mengambil resiko. Otaknya berputar-putar memikirkan siasat gimana caranya bisa lolos dengan aman.
Ah, begini aja deh!
“Kalau berani ayo satu lawan satu! Mumpung gue baru lulus sabuk hitam!“ kata Jovan menantang, sengaja petantang petenteng untuk menciutkan nyali lawan.
“Siapa lu!Jangan berani ikut campur! Cowok yang bokongnya kena tendang Jovan sudah bangkit berdiri. Bahu kerempengnya di tegapkan supaya lebih kelihatan macho.
Jovan mengangkat dagunya.
“Kalau gue bilang Dylan O’ Brien lu bakal percaya gak? Gak bakalan kan, walau gue mirip sama aktor Hollywood juga? Makanya jangan malah ngajakin wawancara, kalau mau berantem mah ayo aja, tapi satu-satu!” Jovan menyerocos dengan sableng.
Si cowok yang kena tonjok di pelipisnya meradang.
“Alaaah. Banyak bacot lu!”
Waduuuuw, taktik gue gagal. Jovan dalam hati mencelos. Sayangnya sudah terlambat untuk mengubah strategi.
Pertarungan dua lawan satu, Jovan dikepung dua orang sekaligus. Baku hantam sengit pun tidak terhindarkan lagi. Sayangnya, posisi Jovan tak menguntungkan. Dia kewalahan.
Wajar sih! Jurus kungfu yang dipelajari si Jojo kan murni mengandalkan kartun Naruto di TV doang. Full otodidak. Mana tahu dia gimana cara memeragakan dwi chagi atau tendangan belakang ala taekwondo dengan baik dan benar.