Smartphone Jovan bergetar. Tadinya dia sedang berbaring dan sempat terlelap. Terhalang dua buah guling dan tiga buah bantal yang sengaja ditumpuk Jojo sebagai benteng pemisah, Al tidur menyamping menghadap tembok. Habis sholat isya’, setelah makan malam dan meminum obat pereda nyeri, dua cowok itu memang kena paksa Mama untuk segera beristirahat.
Mata Jovan membuka setengahnya, melirik benda pipih di dekat pinggangnya. Nama ‘Luph nya Jo2’ berikut foto kontak selfie Tania yang sedang memeletkan lidah meledeknya, terpampang besar memenuhi layarnya.
Jovanpun terkekeh pelan, tak memedulikan rasa puyeng di kepala. Kapan nih anak masang foto beginian?
“Halo?”
“Jojo?”
“Ya, Tan?”
“Lagi ngapain kamu?”
“Sedetik lalu mah tidur…”
“Oh, mimpiin aku, nggak?”
“Sekarang sih nggak, tapi sedetik lalu kayaknya iya. Eh tapi nggak jelas deng, itu kamu apa bidadari dari Ciwastra ya? Kok sama penampakannya.”
Bibir Jovan masih terasa senat-senut, mukanya bonyok, sekujur badan ringsek kayak kelindes setum dan dikuasai ngantuk, Jovan masih sanggup modus, merayu Tania. Garing sih tapi tetep bikin GR.
Tania langsung menjawab, “Iiiiih, kamu mah!” Cewek itu kegemesan sendiri di kamarnya.
Di dekat Jovan, diam-diam Al merasa jengah mendengarkan gombal bin gembel itu, lanjut menutupi telinganya pakai bantal. Katanya udah putus, tapi kok mesra banget sih! Dasar si Jojo.
Complicated. Itu kata yang tepat buat menjabarkan hubungan mereka. Teman Rasa pacaran? Ah, entahlah. Jovan pun bingung memikirkannya.
Setelah puas menelepon Jovan, Tania dengan enggan menekan tombol off.. Senyumnya memudar begitu mendengar bebunyian dua orang dewasa yang bertengkar hebat di lantai bawah rumahnya.
Sambil menghela nafas berat, gadis itu menunduk memandangi wallpaper smartphone nya. Itu foto selfie Jovan dan Tania di bangku taman sekolah. Mereka duduk berdampingan, saling merapatkan bahu dan merengut, memasang wajah paling jelek sedunia.
Foto itu berhasil mengembalikan senyumnya sedikit. Sedari dulu dia tak punya siapa-siapa lagi untuk diajak berbagi cerita, kecuali Jovan.
Iya, meskipun buat cowok itu Tania bukan segalanya,tapi bagi Tania justru sebaliknya. Dia cuma punya Jojo, cinta pertamanya.
***
“Ma, pokoknya mulai besok aku nggak mau diantar Mama lagi ke sekolah, “ kata Jovan merajuk.
Matanya sipit dan sepasang pipinya bak kembaran bakpao. Memerah dan gembil menggemaskan. Tubuh Jovan memang lumayan montok waktu kecil dulu. Usianya baru sembilan tahun. Ia masih kelas tiga di SD Belia Cendekia Buah Batu.