Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #20

Love, Hate, and Tactic

Setengah menggerutu, Bi Siti membawa turun satu kresek besar sampah bekas makanan dan minuman dari kamar bercat biru milik Jovan. Serentetan tawa cekakakan terdengar lagi dari dalam sana. Rameee banget! Hanya lima orang perwakilan XI IPA 4 yang datang menjenguk tapi hebohnya sudah macam suporter sepak bola.

Idiih! Bi Siti mendecih. Tak habis pikir dalam hatinya, kelakuan macam anak PAUD begitu kok dipiara, badan aja pada di gedein!

“Katanya besuk tapi malah ngajakin Aa Jovan pesta di kamar, Bu! Kan tahu Aa Jovan teh boro-boro bisa makan enak, bubur aja mesti setengah diseruput. Bibirnya masih dower gitu juga. Heran! Saya mah jadi kasihan ke Aa Al sampai harus ngungsi dulu istirahatnya di balkon luar. Keberisikan deh kayaknya, Bu!” Bi Siti mengadu pada Mama di dapur. 

Mama tertawa. Tangannya membolak-balikan ikan di penggorengan. Itu menu favorit Jovan. Nanti akan Mama haluskan lalu ditaruh di atas bubur si bungsu supaya lebih lahap menyantap makan siangnya.

“Biarin atuh, Bi. Hitung-hitung menghibur Jovan nggak ada salahnya, kan?”

Bi Siti menggeleng-geleng, meneruskan menyeret kantong sampah di tangannya untuk ditaruh dalam bak besar di depan rumah. 

Sambil menghela nafas panjang, Mama beristighfar, menyentuh dada sebelah kirinya. Belakangan, ritmik jantungnya seringkali berdetak dua kali lebih cepat dari ukuran normal. Kadang disertai gempuran rasa dingin yang melemaskan seluruh persendiannya dan nafas yang tiba-tiba menyesak.

Dua hari kemarin, tanpa memberitahu siapapun, Mama melakukan check up ke rumah sakit tempatnya dirawat semasa penyembuhan kanker. 

“Kondisi katup jantungnya kurang bagus, Bu, mungkin efek kemoterapi,” dokter memberitahukan hasil rekam medis EKG milik Mama. 

“Sementara saya kasih obat dulu. Tolong dijaga makanannya, Bu. Banyak istirahat, kurangi stres. Kalau capek jangan memaksakan diri. Dua minggu lagi tolong datang kesini untuk check up lanjutan. Mudah-mudahan tidak perlu sampai dilakukan tindakan operasi.”

Mama kembali mengulang istighfar sebanyak-banyaknya. Mengusir bisikan setan yang membisikan kegelisahan, mengobarkan ketakutan akan kematian. 

Belum pulih sepenuhnya post traumatic syndrome yang dirasakan Mama paska pemulihan kanker payudara, kini sudah muncul diagnosis baru. Kelainan jantung!

Bicara ranah takdir, hidup dan matinya manusia hanya dibatasi garis tipis. Hanya perkara waktu sebelum bergiliran pulang ke kampung keabadian.

Bimbinglah aku menuju jalan terbaik menuju ikhlas, Ya Allah…, Mama berusaha memasrahkan diri. 

***

“Hahahahaha! Kalau dilihat-lihat, lu lebih gantengan gini. Nggak perlu oplas, bibir lu tuh seksi banget, Jo! By the way si Tania udah lihat penampakan lu yang begini? Ilfil gak dia? Hahahahaha!” suara Rio terdengar girang bisa menemukan materi baru buat menistakan Jovan.

“Kalau dilihat dari jumlah titipan makanannya buat Jovan, curiga udah cinta buta tuh kayaknya si Tania! Bolu, kue, terus apaan lagi tuh tadi seabrek-abrek!” tukas Ikhsan geleng-geleng kepala mengingat cara Tania mencegatnya sepulang sekolah barusan, memaksanya jadi tukang pos dadakan. 

“Tolong kasihin ke Jojo. Inget ya! CUMA BUAT JOJO! Awas lu kalau berani minta ke dia!” Ikhsan dengan gokilnya menirukan omongan plus gerakan Tania. Melotot sambil berkacak pinggang.

“Persis banget, San. Tinggal di tambahin rambut kriting panjangnya doang!” celetuk Rio.

Karuan semua tergelak, “Adeeeeeeu, so sweet banget euy cuma buat Aa Jojo yang seksi seorang!”

Kabar pemukulan anak-anak DRF King pada Al dan Jovan memang sudah menjadi trending topic di Cendekia. Menyebar dalam waktu singkat. Tania bête berat karena dilarang Jovan ikut membesuk ke rumahnya lantaran takut ketahuan Mama.

“Ssst, pada bawel kalian ah!” Terdengar suara Jovan kelimpungan memperingatkan teman-temannya. Gimana sih! Seisi rumah kan tahunya Jovan sudah resmi tuna cinta!

“Alaaaaah, ndak perlu malu lah Jo sama kita-kita! Pake ber-ssst sssst segala dikatain seksi. Kita mah udah nerima kamu apa adanya,” celetuk Suryo Pakusadewo tak sinkron.

Lihat selengkapnya