"Siap, tuan muda?" sapa Tania hangat. Diberinya Jovan senyuman lebar begitu cowok itu sudah mengambil posisi di sebelahnya. Starter mobil mulai dinyalakan.
Kedua alis Jovan terangkat sedikit, memandangi Tania penuh tanya. Terus terang tindak tanduk Tania yang serba rahasia begini bukanlah favoritnya. Kesannya ribet!
"Emang kamu mau ngajakin aku ke mana? Kalau mau traktir makan, mendingan besok aja Tan, sekarang aku udah kenyang," sahut Jovan enteng. Pede betul dia. Biasanya kan Tania memang doyan banget menjejalinya makanan. Seolah gadis itu terlahir ke dunia untuk partneran dengan Mama. Sama-sama ekstra perhatiannya!
"Si Mamang kamu titipin di warung makan padang lagi ya, Tan? Kamu sadis euy! Bisa buncit mendadak tuh si Mamang keenakan ngembatin rendang." seloroh Jovan, mengecek bangku belakang yang kosong melompong.
Tania hanya tertawa renyah. Bukannya menjawab, tangannya menyetel tombol audio di dashboard. Kepalanya lalu terangguk-angguk seiring irama lincah "Always be my baby"-nya Mariah Carey yang berdentum-dentum menyemarakkan perjalanan. Bibir mungilnya sesekali bersenandung riang.
"We were as one, babe., for a moment in time. And it seems everlasting that you were always be mine..."
Jovan mau tak mau ikut tertawa. Pasrah saja mengikuti permainan Tania. Honda Brio itu pun meluncur mulus membelah jalanan.
"Tan..., tolong bilang kalau kita nggak bakal main kejauhan? Udah malem tahu, neneng kriwil. Lagian aku nggak mau besok kamu sampai telat ke sekolah gara-gara kita nekat plesiran malam-malam," katanya gregetan, mengerling kelebatan pemandangan gelap di luar jendela sebelum menempelkan punggung tangannya ke kening Tania. Siapa tahu sebenarnya anak ini lagi demam tinggi makanya otaknya rada ngaco sampai nekat nyulik cowok ke daerah antah berantah.
"Apa sih, Jo!" ucap Tania kembali tergelak, menepiskan tangan Jovan lembut dari dahinya.
"Pokoknya aku mau ngasih kamu kejutan tak terlupakan! Janji deh Jo, sebelum bel berdentang dua belas kali, kita udah balik ke rumah," balas Tania tersenyum manis sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya ke udara.
"Kok jadi kayak Cinderella ya," celetuk Jovan spontan. Ia nyengir kegelian.
Tapi Tania menggelengkan kepala, betah mengukir senyum rahasia. "Anggap aja bukti cinta aku buat kamu, Jo," katanya lirih.
"Eh? Jangan bikin aku mikir yang aneh-aneh dong Tan. Ngeri nih bayangin maksud di balik kata-kata kamu. Ambigu! Kayak obrolan tujuh belas tahun keatas, gitu. Apaan coba kejutan tak terlupakan malem-malem kayak gini? Istighfar ah! Jangan biarkan ada setan yang ketawa diantara kita," cerocos Jovan pura-pura ketakutan, mengkeret di dekat pintu. Sok-sok an playing victim. Niatnya sih murni cuma becanda doang. Sekedar ingin nyablak!
Siapa sangka Tania justru menimpalinya dengan berani. Tampangnya sangat serius menantang Jovan.
"Kenapa emangnya kalau kayak gitu? Apa aja aku berani kasih buat kamu, Jo. Aku mah ikhlas asalkan kamu yang minta, bukan cowok lain!"
Astagfirullahaladziiim! Jovan terperanjat. Ia sangat shock mendengar perkataan Tania yang SUPER ambigu itu! Maksud hati pingin nge-skak mat Tania kenapa malah berbalik arah begini?
Gila nih cewek! Salah makan apaan jadi korslet begini, ya? Sialan, kenapa juga gue deg-degan! rutuk Jovan dalam hati.
Muka Jovan persis orang dongo. Ia melongo sambil menatap Tania. Sebagian karena takjub sebagiannya lagi kompilasi antara heran campur kasihan.
" Ii...iini...kenapa jadi absurd gini omongan kita, Tan.? Lupain, lupain. Aku mah seratus persen becanda!" Jovan gelagapan dan salah tingkah, tak berani menatap Tania.
Tania langsung terkekeh heboh. Menjitak kepala Jovan kuat-kuat.
"Makanya jangan suka iseng, Jo! Terus tolong turunin pede nya sedikit. Mana mau aku ngasih sesuatu yang paling berharga segampang itu! Secinta-cintanya aku sama kamu juga aku belum segila itu, Jo! Jangan kuatir lah. Aku juga cuma bercanda!"