Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #23

Jumpalitan

Pintu ruang tamu berderit. Seisi ruangan senyap dan gelap. Kening Jovan berjengit, menutup pintu sepelan mungkin dan menguncinya kembali. 

Tania memang berhasil memulangkan cowok itu satu jam sebelum tengah malam, tapi tetap saja Jovan ragu. Apa Mama bakalan percaya dengan alibinya, bahwa guru Kimianya getol banget memberikannya les privat sampai selarut ini? 

Huah, gile aje Mama kan ngga bodoh! pikir Jovan. Kayaknya kudu ngarang alasan laen buat disetorin ke Mama!

Agak berjinjit, Jovan pun mengendap-endap supaya tak menimbulkan suara. Tapi...

"Jovano Mahardika! di tengah kegelapan, suara Mama mengalun.

Klik! Lampu ruang tamu tiba-tiba terang benderang.

Alamaaaaak! Jovan terperanjat, mengerjapkan matanya beberapa kali karena kesilauan. Mampus gue! rutuknya getir, perlahan-lahan memutar badannya ke arah suara.

"Habis dari mana kamu?" tanya Mama pelan setengah menyelidik. Tangan beliau bersedekap. 

"Ng….." Jovan tak langsung menjawab, malah mencermati raut wajah Mama yang kelelahan. 

Duh, Jovan menghela napas. Sangat merasa bersalah. Tak tega harus membohongi Mama, maka dia pun memutuskan jujur. 

Lebih tepatnya, 50% jujur deng!

"Eh, anu, Ma. Dari tempat Rio tadi habis latihan. Sebentar aja kok Ma, hehehe," cetus Jovan spontan sambil cengengesan. 

"Maaf ya Ma, nggak bilang dulu!"

Kening Mama berkerut. Bukan apa-apa, bilang pulang dari tempat Rio tapi kok diantar Tania? Sebetulnya gimana? Masih jadian atau sudah putus?

Sekitar lima menit lalu, lewat tirai ruang tamu yang dibiarkan terbuka sedikit, Mama tak sengaja melihat Tania yang menjulurkan tubuh keluar jendela mobil dan melambaikan tangannya pada Jovan. 

Mama menatap Jovan lekat, mengharapkan jawaban lanjutan. Tapi si bungsu tampaknya sudah kehabisan bahan pembicaraan. Sebaliknya, muka tablo alias tampang bloon nya begitu persuasif minta dikasihani.

Astagfirullahaladziiim! Mama merapal istighfar, mengusir belitan rasa kecewa yang merayapi perasaannya.

Rasanya nggak percaya kamu tega bohongin Mama, Van! Mama membatin sedih.

Maaf ya, Ma! Sejumput penyesalan memenuhi ruang hati Jovan terutama mengingat apa yang akan ia lakukan besok.

***

"Surat ijinnya udah lu titipin si Suryo, San?" tanya Rio sesaat sebelum menekan pedal gas. Mereka barusan menjemput Jovan di depan rumahnya. Berpura-pura akan berangkat bareng ke sekolah.

Ikhsan yang duduk di sebelah Rio, menjawab tenang. "Udah. Beres lah pokoknya. Tapi Van, kenapa muka lu burem banget? Sans, kayak baru pertama manggung aja, " lanjutnya cuek, melirik Jovan via kaca dashboard. 

Cowok kece itu nampak sangat tertekan. Buktinya bibirnya rada memble! Tak dijawabnya pertanyaan Ikhsan. Perutnya mules kayak ibu-ibu mau melahirkan. 

Rio tergelak menyaksikan kelakuan Jovan yang nampak kerepotan memeloroti baju dan celana seragam sekolahnya di jok belakang.

 "Woi, cowok porno! Baju nya udah gue gantung di dekat jendela tuh," tukasnya geli, memberikan petunjuk letak kostum manggung Jovan lewat dagunya.

Setelah urusan penggantian kostum beres, Jovan lalu serius memasangkan kembali anting tengkorak di telinga kirinya. Semalam dia terpaksa mencopot tindikannya dulu lantaran takut ketahuan orang rumah. 

Pagi itu, Honda Jazz biru milik Rio terus merajai jalanan, mengambil arah yang berlawanan dengan akses menuju SMA Cendekia. Mereka on the way menuju Dipati Ukur, Bandung. 

Challenge Music Festival merupakan perhelatan tahunan yang diprakarsai musisi Bandung untuk menjaring bibit-bibit potensial di bidang musik, terutama di kalangan remaja. Meski acaranya baru akan digelar sore hari hingga malam, tapi Jovan cs bermaksud meleburkan diri lebih awal di lapangan. Lagipula percuma maksain belajar di sekolah pada hari itu. Konsentrasi mereka kadung buyar!

Sesampainya di lokasi, para remaja tengil itu mendapati banyak sebaya mereka berlalu lalang memadati lapangan monumen perjuangan. Atmosfer cadas sudah mulai kental terasa. Dipayungi hangatnya sinar mentari, sebuah panggung besar gagah berdiri di dekat monumen, dilengkapi drum, keyboard dan properti band lainnya. Stand-stand bazar berbaris rapi di pinggiran lapangan, siap menawarkan aneka suguhan kuliner. Rame banget!

Banyak para mahasiswa Universitas Padjajaran sengaja numpang ngeksis di situ sambil menunggu masuknya jam perkuliahan. Mereka bercampur baur dengan para panitia festival berseragam kaos dan jeans hitam senada yang sok sibuk bolak balik mengecek ini-itu di seputaran panggung. 

Tak sedikit juga murid SMA yang nekat membolos, memilih duduk santai di pinggiran lapangan. Gerombolan itu asyik bergosip sembari jajan sekaligus jelalatan ngecengin mahasiswa yang berlalu lalang. Yaa kali aja ada yang nyantol, gitu. Tak sengaja kepentok jodoh di festival macam drama FTV.

Lihat selengkapnya