“Eh, mana food support yang udah kita siapin? Suryo, lu yang bawa kan? Nggak ketinggalan di mobil, kan?” Neni menunjuk ransel di punggung Suryo, memberi kode supaya cepat melaksanakan operasi bongkar sauh benda apapun di dalamnya.
“Iya, tenang,“ Suryo bergegas menurunkan ransel hiking-nya ke tanah lalu mulai membuka resleting dan kancing pengaitnya.
“Food support apaan sih?” tukas Rio mengeryit, badannya sengaja dicondongkan ke arah ransel buat menuntaskan ke-kepoannya.
Sambil menunggu pengumuman hasil festival, anak-anak Cendekia duduk berkumpul beralaskan paving block di dekat paggar pembatas lapangan, amat jauh dari panggung di depan sana, bersisian dengan stand aneka penjual jajanan.
“Kalau di Korea, tiap kali biasnya perform, para stannya pasti nyiapin makanan buat ngedukung!” Neni menerangkan dengan semangat, tangannya sampai ikutan gerak memvisualisasikan food support versi khayalannya nya sendiri, tapi begitu melihat wajah cengo anak-anak The Jinx yang memang kurang update soal dunia K-pop, terpaksa ditambahkannya penjelasan dengan muka mupeng, “Bias itu idola, stan itu fans fanatiknya!”
“Ooooh!”
“Berarti lu nganggap kita idol dong, Nen? Ah, gue jadi terharu!” Rio pura-pura malu, menutupi mukanya pakai jas hitam yang dipakainya.
“Yee, jangan geer dulu! Ini semua sebenernya ide mimi-mimi peri yang onoh tuh!” Neni menunjuk Suryo dengan dagu nya. “Dan gua pikir sah-sah aja lah, itung-itung numpang jajan gratisan!”
“Nih, ambil sendiri, dipilih-dipilih!” Suryo mengeluarkan beberapa kresek besar dari ransel nya. Di dalamnya ada minuman mineral, botol-botol soda dan aneka jenis makanan mulai dari roti, wafer, cokelat sampai gorengan.
Ikhsan mencomot satu botol soda dan sebuah gehu pedas, mengamat-amatinya sebelum disuapkan ke mulut. “Gini amat ya food support buat bias.”
Semua ngakak.
“Ngomong-ngomong tumben couple kita anteng banget,” celetuk Rio menoleh ke belakang, mendapati Tania dan Jovan yang sedang nyiomay (baca: jajan siomay) sepiring berdua, sengaja duduk agak memisahkan diri persis di sebelah tukang cendol, “Bleh, pantesan, mau mojok ternyata!”
***
“Al minta maaf Tante, Om, Teh Ivanka, Bi Siti, “ ujar Capella Aldebaran bersungguh-sungguh, raut mukanya nampak menyesal.
Capella Aldebaran duduk di salah satu sofa ruang keluarga macam pesakitan di pengadilan yang pandangi oleh semua personil Jovano’s family tanpa terkecuali, termasuk Bi Siti. Beberapa menit lalu dia sudah menceritakan semua isi perjanjian lisannya dengan Jovan.
Semula tidak ada yang bersuara, kecuali Bi Siti yang terus mendecak seraya menggelengkan kepala. Ivanka juga kesal, ia memasang muka jutek lantaran sebal pada kelakuan adiknya.
“Om dan semuanya nggak nyalahin kamu, Al. Kami ngerti maksud kamu baik, “ kata Ayah bijak, menepuk bahu Al pelan.