Sesuai kesepakatan, tak ada satupun anggota keluarga Jovan yang membahas peristiwa malam Minggu kemarin. Mereka memutuskan menutup mata dan telinga, apalagi setelah mendengar Al mengajak Jovan kajian sepulang sekolah nanti. Mama sangat bahagia mendengarnya. Harapan yang sempat tenggelam kini muncul kembali. Dengan sabar, beliau menanti kepulangan dua remaja cowok itu, bermaksud memberikan sambutan hangat.
Beberapa jam kemudian. . .
“Mulai besok biar barengan lagi aja sama Jovan, Al. Nggak usah naik angkot lagi,” kata Mama sumringah, terburu-buru membantu membukakan pintu pagar ketika melihat kepulangan mereka berdua.
Al dan Jovan saling melempar tatapan sinis sekilas. Mereka berdua tahu ini bukan saatnya yang tepat untuk mengobarkan genderang perang. Takutnya Mama kecewa setelah kelihatannya happy banget, menyangka Al dan Jovan pergi kajian bareng. Padahal, mereka berdua hanya kebetulan bertemu di jalanan komplek.
Setelah mencium tangan Mama, dua remaja itu menaiki kamar Jovan di lantai dua, masih tanpa kata-kata.
Al masih sangat kesal pada Jovan. Malas berurusan lagi dengan ular yang omongannya licin banget, nggak bisa dipegang! Jovan sendiri masih mumet memikirkan kontrak The Jinx. Entah kenapa muncul rasa penyesalan dalam hatinya karena terlalu serampangan menjatuhkan keputusan.
Sampai tiba waktunya tidur, barulah Al mengeluarkan unek-uneknya. Setelah dipikir lagi, dia dan si Jojo belum mengkomunikasikan ihwal perkara tadi sore baik-baik. Siapa tahu Jojo punya alasan yang masuk akal. Lagian dia bukan tipikal orang yang kuat ngambek lama-lama. Semua permasalahan harus segera diselesaikan sebelum hari esok tiba.
“Jojo, aku mau ngomong. “ Al memulai pembicaraan, ketika dilihatnya Jovan sudah membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia sendiri masih duduk bersila di karpet, belajar.
Jojo memejamkan matanya sebelum berucap malas, “Ya udah ngomong aja.”
“Kemana kamu tadi sore?”
“Kafé Blink.”
Al mengerjapkan mata. Bagus, setidaknya Jovan ngasih alasan yang masuk akal.“Bukannya jadwal perform kamu di sana masih lama?”
Jovan menarik napas beberapa kali. Dia sedang menimbang-nimbang apakah mau mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Tapi kalau bohong lagi, kok rasanya capek banget. Sudah cukup kepusingan dia hari ini.
“The Jinx barusan teken kontrak sama manajer baru,” jawabnya berusaha santai.
Al terperanjat mendengarnya. “Maksudnya kamu mau rekaman, Jo? Kemaren kamu menang?”
“Cuma dapat runner up, tapi ada manajer yang tertarik ngorbitin The Jinx. Itu bekas manajer nya Hoah Band.” Jawab Jovan malas-malasan.
Al ternganga. Apa?! Hoah kan udah jadi band internasional sekarang. Wah gila sih, ini kayaknya udah ngga bisa main-main lagi. “Boleh lihat surat kontraknya, Jo?”
Bukan apa-apa, tapi setahunya, di dunia bisnis apapun pasti harus berdasarkan hukum. Dan sebagai manajer berpengalaman, pasti akan memberlakukan semuanya secara profesional Diam-diam Al merasa kuatir, karena The Jinx masih sangat awam di dunia entertainment.
Tanpa susah payah membuka mata, Jovan menunjuk ransel sekolahnyanya di pojokan kamar.