Janji Jovan

Vina Marlina
Chapter #26

The Strict Rules

Hari demi hari terus berlalu. 

Di malam Minggu ini, duduk di salah satu meja, seorang cowok jangkung bersurai hitam nampak sekuat tenaga menjaga agar sepasang netra nya tetap terjaga meskipun waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sesekali direguknya segelas minuman soda sekedar untuk menambah kesegaran. Haram hukumnya beristirahat sekarang, karena sekitar seperempat jam lagi dia dan dua orang rekannya sudah harus kembali menampilkan satu lagu pamungkas di salah satu kafe yang cukup elit di wilayah utara kota Bandung.

 Sudah empat bulan terakhir jadwal The Jinx kian meroket pesat dan sejujurnya Jovan merasa sedikit kepayahan. Berkat tangan dingin Bang Ryan, nyaris setiap tiga hari sekali selalu saja ada permintaan manggung dan bukan hanya terbatas di kafé saja. Mereka manggung di acara pesta perkawinan, syukuran ulang tahun, bahkan pernah perform di acara pensi anak sekolah. Bukan main deh sibuknya.

Jovan cs sampai nggak tahu mesti bersyukur atau menyesal. Bukan apa-apa, tapi di menjelang pekan UAS di sekolah, rasanya keteteran juga mesti kejar-kejaran dengan tumpukan tugas dan sebagainya lalu mesti dilanjutkan dengan manggung dan latihan band di malam hari. Iya, Jovan cs tiap hari latihan.

Cape? Nggak usah ditanya.

Di bawah iris Jovan sudah terdapat kantung mata, sangat mirip tokoh utama pria di film Twilight. Dia pucat pasi lantaran pasokan darahnya seolah tersedot entah kemana. Ikhsan dan Rio pun terlihat sama nelangsanya. Untuk sekedar senyum atau cuap-cuap ngobrol kayak biasanya pun sepertinya malas. Mending menghemat tenaga buat perform.

Meski begitu, mereka berterimakasih pada Bang Ryan yang sudah berbaik hati mempermak penampilan anak-anak asuhannya. Penampilan mereka dipermak sana-sini tanpa kecuali. The Jinx jadi terlihat lebih tampan, dewasa dan classy, tak lagi cupu mirip anak-anak remaja 17 tahun.

 Ada getaran aneh yang mewartakan kemunculan satu pesan di smartphone Jovan. Setengah ogah-ogahan, dia merogoh ke dalam saku celana kanannya untuk mengecek siapa yang begitu kurang kerjaannya ngajak chattingan jam segini. Nggak mungkin kalau Mama, karena beliau biasa langsung menelpon.

Begitu membuka notifikasi line, nampak seraut wajah cantik sedang memasang rupa cemberut. Tak ada caption apa-apa di sana, tapi tetap sanggup bikin Jovan terkekeh pelan sebentar.

Tania. 

Gadis itu beberapa jam lalu sempat maksa ingin menyusul ke kafe tempat the Jinx perform, tapi ditolak Jovan mentah-mentah. Dia bener-bener lagi nggak mood untuk ngurusin anak orang. Daripada cewek itu nantinya berakhir bête karena dikacangin semalaman kan mendingan nggak usah. Sudah cukup dia membuat Mama dan seisi rumah menekuk wajah karena Jovan semakin lama kelakuannya seperti Bang Toyib. Pulang-pulang cuma buat bobok, sarapan, mandi terus mabur lagi ke luar untuk mencari nafkah. Bah!

“Begitu terus sampai seribu bulan purnama! Bener-bener kerja lembur bagai kuda ya lu,Van!” Pernah Ivanka melancarkan sindiran pedas.

Waktu itu Jovan hanya bisa bungkam.

Lihat selengkapnya