“Tante nggak tahu mesti gimana lagi menghadapi Jovan, Al. Di satu sisi Tante mencoba untuk berada di posisi dia. Menyelami isi hatinya. Tante tahu sekarang ini dia sedang menikmati masa-masa pencapaian mimpinya, tapi Tante kuatir, Al! Tante takut Jovan bakal terus terbang menjauh dan lupa arah pulang. Belum pernah Tante merasa sekuatir dan sekecewa ini sama anak Tante sendiri,“ Mama Jovan berucap lirih, menguraikan isi hatinya pada Al. Wanita setengah baya itu berdiri di dekat jendela ruang tamu dengan tangan bersedekap. Kedua manik matanya menyorot gelisah ke arah jalanan, tak lelah mencari-cari keberadaan sosok putra bungsunya. Tak bosan menantinya pulang.
Ini sudah keterlaluan. Oke, Jovan memang cenderung tengil dan doyan keluyuran tapi belum pernah separah ini. Setiap hari selalu pulang di atas jam dua belas malam, bahkan pernah selepas subuh baru menampakkan batang hidungnya. Tak heran badan anak itu semakin terlihat ringkih saja dari ke hari, karena tak memiliki banyak waktu luang untuk hal lain selain main band. Sekolahnya saja agak keteteran.
Bukan sekali dua kali Jovan terpaksa membolos ke sekolah lantaran terbentur jadwal manggung The Jinx. Bagaimana dengan salatnya? Ibadahnya? Apakah Jovan masih istiqomah menunaikan sholat lima waktu? Jangan-jangan malah terbengkalai seperti nilai-nilai pelajarannya nya yang merosot turun drastis akhir-akhir ini?
Hfft, Mama Jovan mendesah nafas panjang memikirkannya.
Mulanya Al kelimpungan mesti merespon bagaimana. Sembari duduk di kursinya, dia mengernyitkan kening sedikit untuk berpikir. Berhati-hati memilih kata-kata penghiburan untuk disampaikan pada tante Riana. Diam-diam Al merasa trenyuh. Pastilah beliau sangat resah sampai tumben-tumbennya ngajakin curhat malam-malam begini.
“Insya Allah Jovan bakal baik-baik saja, Tan. Kita mesti percaya sama dia. Jovan memang sempat agak gegabah mengambil keputusan, tapi aku tahu dia sedang memikirkan hal itu baik-baik sekarang. Saya sering mergokin Jovan merenung sendirian sebelum tidur, Tante, “ tutur Al setelah beberapa menit bungkam.
Mama Jovan langsung membalikan tubuhnya cepat, memandangi Al dengan tatapan bertanya. Benarkah?
Seakan bisa membaca pertanyaan tante Riana, Al menganggukan kepala pura-pura yakin.
“Jovan itu anak yang luar biasa, Tante. Dia punya ambisi dan selalu fokus mewujudkan apa yang jadi mimpinya, tapi dia juga sangat realistis. Entah kenapa saya punya feeling kalau dia ngerasa musik bukan lagi jadi mimpi terbesarnya. Tidak dengan konsekuensi yang harus dia bayar seperti sekarang,“ ucap Al berusaha memompakan semangat sebisanya.
***
Dentuman musik yang hingar bingar, silih bergantian menyemarakan ruangan dengan kerlipan lampu warna-warni di sekelilingnya, benar-benar membuat kepala Jovan yang sebelumnya sudah berdenyut-denyut jadi kian pusing saja. Di atas sofa kulit pojok ruangan, pangkal hidungnya dicubit pelan sementara kedua matanya dipejamkan.
“Ini Bang Ryan kesambet apaan sampai nyuruh kita manggung di diskotik segala!” sungut Rio terpaksa teriak-teriak demi menyaingi bunyi speaker yang minta ampun kencangnya. Kepalanya celingukan kesana-kemari mencari-cari keberadaan manajernya. Sejujurnya, dia agak ketakutan juga harus berada di tempat beginian lama-lama. Rio takut banget tiba-tiba disamperin cewek-cewek ajaib semok nan menor nanti gimana dong cara nolaknya? Takut khilaf!
Berbeda dengan Rio, Ikhsan malah cengengesan sambil mengangguk-anggukan kepalanya seirama lagu. Anteng bener dia. Di jemarinya terdapat sebatang rokok putih yang sedang disulut. “Bukan manggung sih. Kalau nggak salah denger, katanya bang Ryan mau bahas soal kontrak manggung di Jakarta bareng koleganya. Udah, sebats dulu nih lur, biar selow. Nikmatin aja lah, lagian kapan lagi coba kita main ke tempat beginian?” ujarnya sambil melemparkan bungkus rokoknya sembarangan ke atas meja.