“Hihihihihi! “
Secara tak terduga, Jovan cekikikan heboh sampai bahu nya berguncang-guncang, padahal matanya sedang terkatup rapat. Tak heran kelakuannya ini langsung mengundang tanya dua sohib di sebelahnya.
“Kenapa lagi tuh anak? Perasaan tadi lagi ketiduran deh, “ cetus Rio ternganga, gelas Coca cola yang tadinya hendak diminum tertahan di udara, keburu kepo mengamati keadaan Jovan.
Jangan-jangan si Jojo kesurupan penghuni astral disini, kan di diskotik gak ada mushola. Gak pernah di pake salat. Hiyyy! Bulu kuduk Rio meremang.
Ikhsan sama bengongnya. Posisinya persis di sebelah Jovan, di toyor-toyornya pelipis cowok itu berulangkali. Tapi jangankan mau membuka mata, yang ada si vokalis malahan terus cekikikan selama beberapa saat sebelum akhirnya pingsan di tempat dengan kepala terkulai ke samping.
“Waduh, ini si Jojo kenapa sih?!” teriak Ikhsan panik.
“Bang Ryan kemana nih, udah kayak anak ilang begini nasib kita! Si Jojo kita bawa pulang aja apa ya, San?!”
“Bawa ke rumah sakit aja, Yo, siapa tahu si Jojo anemia. Dia kan sering mengeluh pusing-lemes melulu belakangan ini!”
“Haduuuuuh, punya temen kok nyusahin begini! San, cepet telepon dulu bang Ryan nya. Masih lama nggak nongki-nongki nya kalau lama, kita cabut duluan!”
Rio dan Ikhsan bergantian menepuk-nepuk pipi Jovan supaya sadar. Mulut mereka mengoceh ribut bersahut-sahutan, sangat kelimpungan.
***
Dengan nafas memburu, Capella Aldebaran bergegas memasukan seluruh baju dan peralatannya ke dalam ransel raksasa yang dulu pernah digunakannya untuk pindahan ke tempat Jovan. Sudut matanya mengalirkan air mata. Jiwanya bergumul menahan rasa sesak. Bibirnya tak letih beristighfar, yang diucapkannya dengan nada bergetar.
Tak terasa sudah hampir tiga bulan Al menghabiskan waktunya bersama keluarga Tante Riana. Kini, perpisahan itu sudah di ambang mata.
Semenjak membaca pesan Line Mama, Al sudah memutuskan untuk menyusul orang tuanya ke Belanda besok pagi-pagi sekali. Perasaannya mengatakan dia akan cukup lama tinggal di sana. Artinya, untuk sementara ia harus mengajukan ijin tidak sekolah. Paling tidak, sampai kondisi papanya membaik.
Capella Aldebaran tidak tahu mana yang paling dia benci. Penghianatan Papa atau keegoisan dirinya sendiri yang selalu menulikan mata batinnya setiap kali diberitahu Mama tentang kabar beliau.
Iya, Al tahu Papa sakit keras. Tapi dia tak menyangka sakit beliau ternyata separah ini. Dia memang bodoh!
“Al, dokter sudah tidak menyarankan kemo lagi. Kondisi tubuh papa sudah tidak kuat menahan sakitnya radiasi.” bunyi lanjutan pesan Mama di Line kian menggemuruhkan nyeri di dada Al.
Satu hal yang Al tahu saat ini, dia hanya ingin segera berada di sisi Papanya. Ia ingin sekali mengenggam tangannya, menciuminya sambil mengutarakan permintaan maaf. Oh salah. Tentu itu saja tidak akan cukup menebus seluruh kesalahannya.
“Tunggu Al, Pa. Al pingin sungkem sama Papa. Al mau minta ampun, ” isaknya pelan.
***
“Kenapa ngga lu cegah sih, Yo! Itu si Jojo jadi minum oplosan secara nggak langsung kan. Habis nenggak miras campur nelen Dumolid ya pastilah keliyengan tuh anak. Gak ada setia kawannya bener lu jadi temen!” cerca Bang Ryan dari kursi supir, mengomeli Rio yang memasang tampang pasrah di sebelahnya.