“Kamu kalau lagi capek atau apa, bilang aja sama aku, Jo. Aku usahain dateng kemanapun kamu manggung. Biar aku bawain makanan, atau sekedar mijitin pundak kamu yang pegel juga nggak apa-apa. Lihat nih, badan kamu kurus kering begini. Makan kamu ngga bener nih pastinya!” Tania mengoceh sambil terus mengusap lembut kepala Jovan di pangkuannya.
Rio dan Ikhsan yang menyaksikan adegan itu kompakan mendelik. Mengutuk si Romeo dan Juliet kw 100 di dekatnya yang sedikitpun tak punya rasa prikejombloan. Mereka berdua mendadak jadi orang terngenes segalaksi bima sakti.
“Huh, bikin ngiri aja, kontrakan paling deket diantara Mars dan Pluto dimana ya kira-kira?” gumam Rio.
Jovan mengulum senyum, mendongak memandangi wajah cantik Tania yang tak bosannya melemparkan senyuman hangat padanya.
Kenapa ada kupu-kupu nyasar yang terbang dengan lebaynya di perut gue. Dan sialnya lagi, kenapa rasanya menyenangkan? Jovan merutuk dalam hati, kesulitan melepaskan pandangannya pada ang gadis.
Dunia serasa berhenti berotasi. Lucunya, rona merah tanpa diundang merayap naik ke wajah Tania dan Jovan. Jantung mereka berdua jumpalitan tanpa rima, sama-sama merasakan perasaan jaman dulu yang balik menyeruak tak tahu tempat, bikin keduanya salah tingkah beberapa jenak.
Inikah yang namanya CLBK? Cinta lama bersemi kembali? Lebay memang, tapi anehnya itu berlaku buat Jovan saat ini. Sulit dipungkiri, perasaan sayangnya pada Tania melesat pesat seiring pergerakan tangan Tania pada rambutnya ini.
Aih, nyaman banget, Jovan memejamkan matanya lagi. Ternyata disayangin seseorang itu bisa sesurgawi begini rasanya, ya?
Jovan baru menyadari satu hal. Tania itu benar-benar beda dari cewek-cewek kebanyakan yang dulu dia modusin. Mily, Sisi, Yuni dan seabrek lainnya., semuanya lewaaaat. Perlakuan manis Tania mengingatkannya pada satu sosok wanita yang sangat ia cintai di dunia ini. Yang melahirkan dan membesarkannya tanpa mengharapkan balasan.
Mama. Iya, Mama.
Mama yang cerewet tapi perhatian. Obat yang paling manjur penangkal segala sakit dan penat di dunia ini. Ah, Mama lagi apa ya sekarang? Kangen banget nih, Jovan mengesah. Kalau boleh memilih, dia ingin banget membotolkan segala perasaan yang dimilikinya saat ini untuk orang-orang yang dicintainya, yang dulu sering dia sia-siakan atas nama mimpi dan cinta nya terhadap musik.
Sayang, acara cudling dan istirahat mereka tidak bisa berlangsung terlalu lama.
Bang Ryan sudah datang dengan wajah secerah mentari pagi. “Hey, anak-anak. Udah mau dzuhur nih. Siap kan buat meluncur ke Jakarta sejam lagi? Sore ini kan kita perform loh. Nggak pada amnesia kan?!”
Tak ada yang berani protes. Karena mereka tahu bentuk pembangkangan apapun terhadap kontrak, tidak akan ditolerir oleh sang manajer yang terkenal profesional dan bertangan dingin tersebut.
***
Jovano Mahardika
“Ma, Maaf baru ngabarin, kemarin aku nginep di tempat Rio. Sekarang kami lagi di perjalanan ke Jakarta. Doain ya, Ma. Mudah-mudahan semuanya lancar.”
Mama menatap lekat smartphone di tangannya, membaca pesan yang dikirimkan si bungsu. Ada rasa lega yang menjalari hati beliau begitu mengetahui Jovan baik-baik saja di luar sana. Setidaknya meskipun kemarin tidak pulang ke rumah, Jovan masih menyempatkan mengabarinya. Hatinya senang karena ini kali pertama Jovan meminta doa padanya.
Sebuah kemajuan.
Mama menarikan jemarinya dengan penuh semangat di layar smartphone, bermaksud mengirimkan pesan balasan.
Mama